Efisiensi: Bukber Kolaborasi Hexahelix dan Potluck
Cara lain, tak kalah banyaknya yang dilaksanakan dengan beriyuran sejumlah uang dari masing-masing peserta. Oleh tim kecil di atur pembayarannya dari hasil iyuran tadi kepada penyedia makanan dan minuman santapan berbuka.
Tak jarang juga gaya modern perkotaaan masing-masing bayar sendiri. Bahkan pada budaya masyarakat warga negara tertentu di Amerika dan Eropa masing-masing peserta diberitahu setelah total angka bill-kwitansi pembayaran datang.
Mereka membagi bayaran total tadi sama rata. Meski porsi dan jenis makan mereka berbeda, namun mereka rela dengan membayar masing-masing sama.

Meringankan, Tak Minder dan Bossy
Potluck bukber keluarga kami kali ini sederhana sekali. Masing-masing keluarga melaporkan apa yang akan dibawa untuk senja berbuka. Tentu sesuai dengan kepandaian mereka memasak, kecendrungan selera, kecepatan dan ketepatan waktu serta kemudahan lainnya.
Kali ini keluarga kami terdiri atas 7 (tujuh) kepala keluarga (KK). Dengan total jiwa 30 orang. Maka dari 7 keluarga itu, para ibu melaporkan atau menuliskan di grup WA, apa yang akan dibawa masing-masing senja ini.
Mereka yang 30 orang tadi adalah di antara diaspora "dunsanak" dari kampung kami terbatas yang di Jakarta, Tangerang Selatan, dan Bandung yang satu "paruik" perut (rahim).
Kalau keluarga lain apa lagi satu nagari dan berbilang rantau dalam dan luar negeri, sangatlah banyaknya. Mereka berserak di berbabagai wilayah tanah air dan mancanegara.
Tahun ini, akibat efisiensi tak banyak yang mudik dan pulang ke kampung (pulkam). Meskipun banyak fasilitas pihak tertentu sediakan transportasi mudik gratis, dan itu memang meringankan.
Akan tetapi harga diri di kampung tak cukup hanya dengan bersalaman, jabata tangan minta maaf kepada warga yang bertahun tak bersua. Ada gengsi sosial lain yang sulit terpenuhi. Maka mudik kali ini di-delete atau skip.
Kembali kie Bukber, kalau dulu tuan rumah tempatnya berbukalah yang menanggung semuanya. Yang lain hanya membawa ala kadarnya tanpa melaporkan secara rinci.
Kali ini berbeda. Secara gamblang menulis apa saja yang dibawa. Siapa yang menanak nasi. Dan siapa yang menyediakan air minum, perbukaan (takjil), lauk-pauk menurut jenis dan porsinya.
Dengan begitu, kesulitan menjadi ringan dan lebih dari itu rasa kebersamaan, cinta dan kasih-sayang semakin kental.

Tentu ada yang membawa hidangan yang mahal dan sangat tidak terjangkau oleh anggota yang lain, tetapi banyak pula yang enak-enak tetapi murah, bergizi dan halal datang dari pihak mayoritaas lainnya. Artinya selera menjadi lebih elastis dan tak kurang pula mutunya.
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Related news
Anniversary II GIPPUM Cirendeu: Syukur dan Gembira
Kegiatan - December 6, 2025
"Lapeh Taragak" Bersama Anwar Abbas dan Erizal Kari Minang
Kegiatan - April 24, 2025
Gallery Trip to Jambi 10-14 April 2025: Masjid M Cheng Hoo
Kegiatan - April 11, 2025
Lunch Silaturrahim dengan Alumnus UM Sumbar Zul Asman
Kegiatan - March 1, 2025


























