Koalisi Partai, Nasionalis-Religius

Sunday, November 2, 2025 08:37 PM | Kolom Shofwan Karim
Koalisi Partai, Nasionalis-Religius
Ilustrasi Foto: Shofwan Karim dan Kemenpora RI bersama CWY-Youth Leader In Action (YLIA) Charlottetown, PEI Canada, Dec 2013 (Foto Ist)
Zuhud, Wara", Qana

Dua di antara Koalisi tadi viral menghadapi Pilpres 2024 . Dua calon Prabowo dan Anies dari dua koalisi Kebangkitan dan Perubahan, diperkirakan kalau Panjang umur dan izin Allah akan final ke KPU. Mereka sedang lobi siapa pula dua Bacawapres yang mereka usung sampai hari H ke KPU dalam waktu tak lama lagi.Sesingkat pantauan saya, meski selalu di tiga besar hasil survei nasional, belum satupun Partai Deklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Bacapres, kecuali suara lepas dari PSI yang mendapat koreksi dari PDIP.

PDIP sendiri yang tak perlu koalisi suara juga belum mengumumkan siapa Bacapres mereka, apalagi Bacawapres. Bahwa nanti akan ada yang bergabung mengusung Bacapres dengan calon PDIP, itu merupakan keniscayaan.Kembali deklarasi Anies oleh PKS. Presiden PKS Ahmad Syaikhu menyatakan 7 kriteria mengapa MMS-PKS memilih Anies sebagai Bacapres. Diantaranya yang paling menarik adalah yang pertama, nasionalis-religius. Yang 6 lainnya cukup rasional dan konkret.

Diksi nasionalis-religius merupakan pengembangan dari teori lama 78 tahun lalu. Dekat 8 dekade lalu, wacana aliran dan identitas sub-ideologi Indonesia disebut Nasionalisme-Sekuler dan Nasionalisme-Islami .Endang Syaifuddin Anshari-ESA (1938-1996) dalam Tesis Masternya di McGill University tahun 1976 yang berjudul : "Piagam Jakarta 22 Juni 1945 : Sejarah konsensus Nasional antara Nasionalis Islamis dan Nasionalis 'Sekuler' tentang Dasar Negara Republik Indonesia 1945-1949", mengikhtisarkan penandatangan Piagam Jakarta sebagai terdiri atas gabungan kedua stereotip tadi.

Mereka adalah Haji Soekarno, Haji Achmad Soebardjo, Haji Abdul Kahar Muzakir, Alex Andries Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Haji Mohammad Hatta, Haji Abdul Wahid Hasyim, Haji Agoes Salim dan Haji Mohamamad Yamin. (Shofwan Karim, Langgam.id 19 Jan 2022).

Agaknya waktu itu Soekarno, M Hatta, A Soebardjo. AA Maramis dan M Yamin dianggap, tipologi kedua. Dan AK Muzakir, A Tjokrosejoso, Haji Abdul Wahid Hasyim dan Agus Salim, tipologi pertama.

Diksi Nasionalis-Islamis dan Sekuler-Nasionalis sekarang sudan melebur menjadi Nasionalis-Religius dan Religius Nasionalis. Artinya tidak ada lagi kekuatan formal politik yang murni sekuler atau murni religi.

Bila dilihat kepada koalisi yang sudah ada untuk Pilpres 2024, kelihatan sekali politik identitas seperti kalangan tertentu masih masih menyuarakan, menjadi ketinggalan "kereta".