Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
"Saudara-saudara bisa berdoa lima kali sehari. Namun, kalau akhlakmu, tetap buruk, tidak ada gunanya. Saudara-saudara bisa berdoa dengan teratur, akan tetapi bila mana saudara tetap rakus, kikir, tidak mempunyai rasa prihatin terhadap orang miskin dan berkekurangan, maka doamu tidak akan diterima oleh Allah. Saudara tidak akan masuk surga akan tetapi neraka".
"Saudara bisa menyelesaikan tugas puasa. Namun, bilamana saudara tetap berdusta, bohong atau menipu orang lain, masih berlaku sombong, tidak ada gunanya berpuasa."
" Puasamu tidak akan diakui oleh Allah. Nabi berkata: "Saya diutus kepada kamu untuk memperbaiki akhlakmu, budi pekerti. " Karena itu, mari kita berdoa, berpuasa. Naik haji, membayar sedekah, dan di atas segala-galanya ini, mari kita memperbaiki akhlak, budi pekerti kita."
Narasi di atas adalah bagian dari kutipan ceramah Ketua Muhammadiyah A.R. Fakhruddin, di hadapan suatu pertemuan anggota Cabang Muhammadiyah Kotagede di akhir 1971.
Prof. Emiritus Mitsuo Nakamura ( 95 tahun), mendengar langsung, ditulis pada muka 65 dari buku setebal 715 halaman, Mengamati Islam di Indonesia 1971-2023, Yayasan Obor, 2025.
Pengamatan 50 tahun Nakamura itu mencakup perubahan sosial, politik, dan budaya yang signifikan di Indonesia. Melalui kajian antropologi, Nakamura memotret perkembangan praktik keagamaan, interaksi sosial, serta dinamika identitas Muslim di berbagai ranah Masyarakat.
Pada sumber lain, paling tidak terdapat lima unsur dalam dimensi religiusitas (keberagamaan). Pertama, dimensi pengalaman. Kedua dimensi ideologis. Ketiga, dimensi ritual. Keempat dimensi intelektual ideal. Kelima dimensi konsekuential.
Dari kelima unsur tadi, dimensi pertama (pengalaman) dan dimensi ketiga (ritual) tampaknya lebih populer. Budaya yang seakan ibadah menyertai puasa sebagai komplementer, termasuk berbagai tradisi.
Beberapa di antaranya ziarah kubur, mandi balimau, mengantar perbukaan ke rumah mertua, ikuti ceramah agama di Masjid dan Musalla, ramainya tarawih, Semua itu bagi budaya populer merupakan ibadah. Ada yang bersifat perorangan. Tak kurang pula sebagai menjemput pengakuan lingkungan dan sosial.
Puasa sebagai perilaku menahan nafsu dan lapar serta segala yang membatalkan seharusnya merupakan awal penerimaan pribadi terhadap ibadah ini. Akan tetapi rupanya puasa bukan hanya untuk diri dan berharap balasan Allah tetapi juga meracik budaya populer. Lantaran itu puasa kelihatan lebih "heboh" atau viral di kelompok tertentu sementara ada kelompok yang "adem" saja
Para antropolog mempelajari agama sebagai fenomena budaya yang hidup. Ber fokus pada praktik, simbol, dan makna yang dibentuk oleh manusia dalam masyarakat. Agama berperan sebagai sistem nilai yang terinternalisasi, memengaruhi kognisi sosial, perilaku, dan interaksi kelompok, sekaligus berfungsi sebagai perekat sosial dan pemersatu dalam keaneka-ragaman.
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Related news
- Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
- Hikmah Ramadhan (3): Al Ghazali, Hamka dan Qardhawi: Fikih Puasa dan Kesalehan Sosial
- Hikmah Ramadhan (2) : Puasa, Teologi Pengampunan Dosa
- Hikmah Ramadhan (1) Puasa, Ibadah Universal
- Wacana Pluralisme antara Pemahaman Publik dan Pemikiran Akademik di Indonesia
Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026
Hikmah Ramadhan (2) : Puasa, Teologi Pengampunan Dosa
Kolom Shofwan Karim - February 21, 2026
Hikmah Ramadhan (1) Puasa, Ibadah Universal
Kolom Shofwan Karim - February 21, 2026






















