Bahagia, Menahan Luka di dalam Diam
Jika masyarakat Indonesia tetap menunjukkan kebahagiaan, itu adalah bukti kekuatan iman dan solidaritas sosial. Namun, kekuatan ini tidak boleh dieksploitasi menjadi alasan untuk menunda perubahan. Ketahanan sosial bukanlah substitusi bagi keadilan struktural.
Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang berat. Rasulullah bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban" (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah peringatan keras bahwa kebijakan publik bukan sekadar urusan administratif, tetapi juga tanggung jawab moral di hadapan Allah.
Maka, kebahagiaan yang sejati bukanlah kebahagiaan yang membuat kita terlena, tetapi kebahagiaan yang membangkitkan kesadaran. Kesadaran bahwa iman harus melahirkan keadilan, dan syukur harus mendorong perubahan.
Pada akhirnya, kita dihadapkan pada pilihan: menjadikan kebahagiaan sebagai selimut yang menutupi ketimpangan, atau sebagai cermin yang mendorong perbaikan. Islam jelas berpihak pada yang kedua.
Dan hanya dengan jalan itulah, kebahagiaan akan menemukan maknanya yang utuh—bukan sekadar rasa di dalam hati, tetapi keadilan yang hidup dalam masyarakat. Hingga kelak, kita tidak hanya disebut sebagai bangsa yang bahagia, tetapi juga bangsa yang adil di hadapan manusia dan diridhai di sisi-Nya: "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai" (QS. Al-Fajr: 27--28). *
*Penulis: Shofwan Karim (Penulis Esai, Pengamat dan Pembelajar Pascasarjana UM Sumbar; Ketua PWM 2015-2022, 2000-2005; Pertimbangan MUI Sumbar 2000-2005, 2005-2010, 2010-2015, 2015-2025; Dewan Wk Ketua MLH PP Muhammadiyah 2022-2027).
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Anton Hilman
Source: https://langgam.id/bahagia-menahan-luka-di-dalam-diam/
Related news
Jebakan Iran dan Logika Sejarah
Kolom Shofwan Karim - June 16, 2026
Ekotheologi Berbasis Nilai Islam
Kolom Shofwan Karim - June 8, 2026
Telaga Kreatif: Generasi Muda Muslim
Kolom Shofwan Karim - June 7, 2026


























