Telaga Kreatif: Generasi Muda Muslim
Telaga Kreatif: GenerasiMudaMuslim
Oleh: Shofwan Karim
(Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Wk. Ketua MLH PP Muhammadiyah)
SEJAK FAJAR eksistensi manusia menyingsing, telaga atau oasis diceruk Gurun Saharak lasik selalu menjadi simbol yang sakral—sebuah mataair kehidupan autentik. Di siang hari yang membakar sedemikian kering dan malamy angm endekap lembab,t elaga adalah satu-satunya ruang intim bagi musafir untuk menghirup napas kedamaians ekaligus melepas dahaga yang mencekik kerongkongan.
Hari ini, di era disrupsi digital yangmelahirkan the global borderless world, realitasr uang dan waktu telah melenyap.Manusia modern-kontemporer tidak lagi berjalan di atas pasir, melainkan sedang bersafari di atas gelombang algoritma yang berpusing tiada henti. Esai ini secara khusus menyoroti para pengelana di garda depanarus tersebut:generasimuda Muslim (GMM).
Mereka adalah entitas yang tergolong dalam klaster Generasi Y (Milenial), Generasi Z, hingga Generasi Alpha. Merujuk kepada konseptualisasi teoretisWilliam Strauss dan Neil Howe dalam Generation Theory, setiap generasi dibentuk oleh peristiwa sejarah,s osial, dan tekno-global yang seragam, sehingga melahirkan kesamaan nilai dan cara pandang.
Generasibaruini—yangterpancarkeduniasejakujung90-anhinggaera AIgeneratifsekarang—bisadiibaratkansebagaicicitNabi Adam AS yangberpindahdari"surgalangit" yangghaibmenuju"surgabumi" yangserbadigital.Namun, dibalikkegemilanganteknologiini,merekakerapterhenyakdanterasingdiranahdunianyata.
ParadoksGlobal:Krisisdan Galau
Secaraakademikdansosiologis, pemuda Muslimkontemporerdi negara manasajadi duniahariini,beradadipersimpanganjalanyangparadoks. Disatusisi,GenerasiZ dan Alphaadalahdigitalnativesyangmahirmelakukanmultitasking,inklusif, dan sangatkritis.Namundisisilain,kebebasantanpabatasinimembawakonsekuensipsikologisyangberat.
MerekamenghadapikrisisidentitasakibatbenturankerasantarabudayaBarat yangsekulerdengannilaiIslam yangsakral.Merekajugadihantamoleharusinformasiyangekstrem,darikontenradikalhinggapahamyangterlaluliberal.Akibatnya, problemkesehatanmental(mental health)berupakecemasaneksistensialdandepresimenjadihantunyatabagigenerasiyanghidupdalamkompetisiglobalini.
Secarasufistik,fenomenainiadalahbentukal-ghurbah(keterasinganspiritual). Jiwamanusiayangsucimerindukanketenanganbatin,namunterus-menerusdiberimakanolehilusiduniawiyangsemu.
Allah SWTtelahmengingatkanfenomenakehampaaninidalamAl-Qur'an:
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Related news
Bahagia, Menahan Luka di dalam Diam
Kolom Shofwan Karim - April 13, 2026
Lupakan Perbedaan, Sambutlah Kebersamaan
Kolom Shofwan Karim - March 24, 2026
Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026
Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026


























