Perspektif Islam tentang Gender
Asghar nengatakan bahwa dua kesaksian perempuan sebanding dengan satu kesaksian laki-laki itu tidak menunjukkan inferioritas perempuan . Hal itu semata-mata karena pada masa itu perempuan belum mempunyai pengalaman memadai dalam masalah keuangan, dan karena itu dua saksi perempuan dianjurkan al-Qurn, sehingga jika terjadi kelupaan --karena kurangnya pengalaman—maka salah seorang dapat mengingatkan yang lain. Oleh karena laki-laki mempunyai pengalaman yang cukup maka pengingat semacam itu tidak diperlukan bagi mereka. Asghar juga mengingatkan bahwa walaupun dua saksi perempuan dianjurkan seabagi pengganti seorang saksi laki-laki, hanya salah seorang di antara keduanya yang memberikan kesaksian. Yang lain berfung tidak lebih dari pengingatnya jika dia bimbang.
Sejalan dengan Asghar, Amina Wadud Muhsin berpendapat ayat itu tidak menyebutkan bahwa kedua perempuan tersebut sebagai saksi. Seorang perempuan diperlukan untuk mengingatkan yang lainnya, sehingga ia bertindak sebagai mitra bagi yang lainnya. Meskipun perempuan yang dihadirkan berjumlah dua tetapi fungsi masing-masing berbeda. Di samping itu menurut Amina ada sebab lain. Dipanggilnya dua saksi yang kamu ridhai menunjukkan adanya upaya untuk mencegah terjadinya kecurangan. Jika seseorang melakukan kesalahan, atau dibujuk untuk memberi kesaksian palsu, ada saksi lain yang bisa mendukung perjanjian itu. Namun mengingat dalam masyarakat umumnya perempuan mudah dipaksa, jika saksi yang dihadirkan hanya seorang perempuan, maka ia akan menjadi sasaran empuk kaum laki-laki tertentu yang ingin memaksanya memberi kesaksian palsu. Jika ada dua orang perempuan, mereka bisa saling mendukung satu sama lain: jika yang seorang lupa, maka seorang lagi dapat mengingatkannya.
III. Tinjauan empirik-kotekstual.
Secara empirik-kontekstual, persoalan relasi gender sebetulnya tidak semata-mata dibentuk oleh persepsi normatif-tekstual dari ajaran pokok Islam yang tersurat dan tersirat di dalam al-Qurn, hadist dan konsepsi ulama di dalam rumusan fikih .
Ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan di dalam meninjau pengarusutamaan gender di kalangan umat Islam di negeri ini . Di antaranya kultur lokal, adat dan tradisi, tingkat ekonomi, pendidikan dan penguasaan ilmu dan teknologi.
Oleh karena itu konsep gender yang diterapkan di Barat, niscaya tidaklah seluruhnya dan seutuhnya berkesesuaian (kompatibel) dengan konsep gender di Timur umumnya dan Islam khususnya.
Realitas gender di dalam masyarakat Barat pada dasarnya berawal akibat pengalaman empirik -historis para wanita mereka yang amat tertindas. Kenyatan itulah yang menstimulir dan menjadi katalis dari feminisme Barat . Sehingga terjadi perlawanan yang amat keras dan membalikkan peta budaya pola relasi laki-laki dan prempuan.
Anehnya, setelah isugender balancedigembar-gemborkan, kondisi para wanita Barat tidaklah lebih baik dari sebelumnya. Fakta mengungkapkan, alih-alih meraih keadilan gender yang diimpikan, masalah yang muncul bahkan lebih kompleks lagi.
Wanita Barat kini hidup dalam dunia yang justru lebih keras dari yang mereka perkirakan sebelumnya. Sekedar ilustrasi dapat direnungkan apa yang ditulis Collete Dowling dalam bukunya Cinderella Complex.
Dowling merasa bagaikan dihempas ke batu karang ketika suami keduanya mengatakan keberatan untuk menanggung biaya hidupnya. Setelah setahun berlalu, Lowell, si suami, mengatakan bahwa tidaklah adil sementara dirinya bekerja keras menghasilkan sejumlah uang untuk menutupi seluruh kebutuhan keluarga, Dowling 'hanya ' menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga yang 'tidak produktif, dan sengaja meninggalkan profesi sebagai penulisfree lanceyang telah dijalaninya sebelum menikah dengan Lowell.
Kenyataan ini meluluhlantakkan Dowling. Berserpihanlah rangkaian impiannya untuk menikmati hidup berbunga-bunga sebagai seorang wanita. Kemarahan dan kekecewaan yang dalam --karena pernyataan sang suami tadi—membuatnya terpuruk dalam depresi.
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Anton Hilman
Source: https://eskaelhussein.wordpress.com/2020/10/21/perspektif-islam-tentang-gender/
Related news
Bahagia, Menahan Luka di dalam Diam
Kolom Shofwan Karim - April 13, 2026
Lupakan Perbedaan, Sambutlah Kebersamaan
Kolom Shofwan Karim - March 24, 2026
Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026
Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026


























