Wacana Pluralisme antara Pemahaman Publik dan Pemikiran Akademik di Indonesia
Wacana Pluralisme antara Pemahaman Publik dan Pemikiran Akademik di Indonesia
Wacana Pluralisme antara Pemahaman Publik dan Pemikiran Akademik di Indonesia1
Oleh Shofwan Karim2
I.Pendahuluan
Wacana (diskursus) pluralisme di Indonesia cukup kencang dan marak sejak beberapa dekade belakangan sampai saat ini (tulisan dibuat 2007) . Beberapa kelompok dan perorangan pakar Islam tentang pemikiran moderen Islam cukup gencar membicarakannya. Wacana itu berkembang dalam karya tulis, ceramah, diskusi dan seminar baik langsung maupun melalui media massa.
Para akademisi memperdebatkannya secara intensif dengan cara ilmiah dan dapat menambah wawasan ilmu dan akademik. Sejalan dengan itu, dalam sosialisasi pemikiran itu terpapar dan tertayangkan dalam media massa grafika, audio-visual dan elektronika yang diakses langsung oleh kalangan umum. Konsekuensinya, wacana pluralisme ditanggapi dengan beragam.
Respon kalangan akademik yang kontra pemikiran pluralisme dapat dimengerti karena mereka dapat memilah-milah secara rasional sesuai latar belakang akademik mereka. Akan tetapi di kalangan masyarakat umum, penolakan pemikiran telah berimplikasi disharmoni sosial yang bersifat fluktuatif.
Terutama munculnya prasangka dan gunjingan tidak sehat. Pada gilirannya menbuat tuduhan merendahkan bahkan membuat stigma amat negatif terhadap lembaga dan perorangan yang dilekatkan sebagai subyek yang dianggap mengembangkan pemikiran pluralisme tadi.
Beberapa lembaga dan tokoh telah dianggap terpojokkan oleh keadaan itu. Suasana dan lingkungan yang demikian boleh jadi membawa resiko kepada perkembangan pemikiran Islam ke depan yang kurang kondusif. Hal ini dapat membawa kepada situasi bahwa setiap pemikiran yang tidak sesuai dengan aliran yang telah mapan dianggap sesat dan menyesatkan.
Dalam kerangka itulah, maka perlu dikaji secara proporsional wacana pluralisme dalam pemahaman publik dan pemikiran teoritis ilmiah tentang pluralisme secara akademik. Selanjutnya, di mana letak perbedaan pemahaman dan pemikiran itu serta bagaimana cara menghampiri keduanya sehingga menjadi produktif untuk perkembangan pemikiran Islam ke depan. Lebih dari itu, publik boleh jadi dapat merasa lebih lapang dan merasa mendapat ruang yang kondusif serta tidak terabaikan.
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: https://docs.google.com/document/d/1FWgmm57cqbxOWcSDqsv4v4L3j1R9baSz/edit?usp=sharing&ouid=105832188290809157863&rtpof=true&sd=true
Related news
HBN, Silsilah dan Anekdot Herder
Kolom Shofwan Karim - December 4, 2025
Koalisi Partai, Nasionalis-Religius
Kolom Shofwan Karim - November 2, 2025
Kilas Balik Islam Berkemajuan, Poros Minang-Jawa
Kolom Shofwan Karim - August 25, 2025
Kota Layak dan Ramah Lansia, Merdeka
Kolom Shofwan Karim - August 22, 2025






















