Hikmah Ramadhan (1) Puasa, Ibadah Universal
Puasa sebagai ibadah universal yang dimaksud di sini adalah ritual agama yang dilaksanakan oleh pemeluk berbagai agama samawi bahkan agama-agama lain yang disebut ardhi atau agama bumi.
Samawi dan Ardhi. Agama samawi dalam teks dan konteks adalah agama yang memiliki wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Rasul-rasulnya. Lalu Kumpulan wahyu itu terkompilasi di dalam kitab-kitab suci mereka. Maka di dalam disiplin ini dikenal suhuf-suhuf kepada para Rasulullah lainnya dan kitab zabur, injil dan al-Quran kepada Rasulullah, Nabi Daud, AS, Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW.
Ibadah puasa sebagai ibadah universal dinyatakan dalam Al-Quran, Al Baqarah (2): 183
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa .
Puasa adalah praktik ibadah universal yang ditemukan di hampir seluruh tradisi agama dan kepercayaan besar di dunia, bukan hanya dalam Islam. Secara umum, puasa dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, atau kesenangan duniawi lainnya untuk tujuan spiritual, disiplin diri, atau penyucian jiwa.
Agama Islam mewajibkan umatnya menjalankan puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Tujuannya adalah untuk meningkatkan ketakwaan ( taqwa ), merasakan penderitaan yang mereka kekurangan, dan melatih kendali diri.
Agama Nashrani ada tradisi di umatnya yang mempraktekkan puasa bervariasi antar denominasi. Banyak umat Kristen yang menjalankan puasa atau pantang selama masa Prapaskah (Prapaskah) sebagai bentuk pertobatan dan persiapan menyambut Paskah.
Agama Yahudi mentradisikan Puasa paling utama dilakukan pada hari Yom Kippur (Hari Penebusan), di mana umat Yahudi tidak makan dan minum selama 25 jam untuk memohon pengampunan atas dosa-dosa mereka.
Di kalangan pemeluk Hindu , Puasa (disebut Vrata ) sering dilakukan pada hari-hari tertentu dalam kalender lunar, seperti Ekadashi, atau saat festival tertentu untuk menghormati dewa-dewi dan menyucikan pikiran.
Pada umat Buddha , ada tradisi tekanan pengendalian diri terhadap makanan. Bahkan para biksu biasanya tidak makan setelah tengah hari sebagai bagian dari disiplin disiplin dan pelepasan urusan keduniawian.
Semua Puasa yang dilaksanakan baik sebagai kewajiban maupun sebagai tradisi penganut agama-agama tadi, bila dirangkum mempunyai makna universal di seluruh umat manusia dalam batas waktu dan cara masing-masing.
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: Harian Singgalang
Related news
- Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
- Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
- Hikmah Ramadhan (3): Al Ghazali, Hamka dan Qardhawi: Fikih Puasa dan Kesalehan Sosial
- Hikmah Ramadhan (2) : Puasa, Teologi Pengampunan Dosa
- Wacana Pluralisme antara Pemahaman Publik dan Pemikiran Akademik di Indonesia
Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026
Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026
Hikmah Ramadhan (2) : Puasa, Teologi Pengampunan Dosa
Kolom Shofwan Karim - February 21, 2026






















