Hikmah Ramadhan (3): Al Ghazali, Hamka dan Qardhawi: Fikih Puasa dan Kesalehan Sosial
Hal itu mencakup sikap toleran, suka menolong, peduli pada sesama, dan berperan aktif dalam memecahkan masalah sosial. Membantu warga penyintas bencana, adalah dimensi horizontalyang dapat dipahami sekaligus pencerminan dimensi vertikal karena ada timbangan pahalanya sekaligus.
Di dalam Islam, pahala adalahganjaran kebaikan dari Allah SWTsebagai balasan atas amal saleh, ketaatan, atasibadah yang dilakukan dengan ikhlas, yang bisa berbentuk materi atau immateri (spiritual).Wujudnyaakan diberikan baik di dunia (kelegaan hati rezeki yang tumbuh-berkah) maupun akhirat (pahala), dengan nilai yang bisa berlipat ganda, bahkan tidak terhingga.Ini merupakan motivasi utama dalam menjalankan ajaran agama, berbeda dengan "dosa" yang merupakan balasan atas perbuatan buruk.
Bagaimana dengan mereka yang rajin ibadah mahdah (khusus) tetapi suka menyendiri, atautidak peduli dengan lingkungan dan masalah sosial?
Bangun dari Selimut.Al-Quran menegur orang yang berselimut (berselimut) di dalam Surat Al-Muddatsir (74) ayat 1-2,Allah memerintahkan Nabi Muhammad untukbangun dan memberi peringatan.
Ini merupakan ajakan untuk gerak sosial (dakwah dalam makna lebih luas).Meninggalakan kemalasan untuk berinteraksi dengan Masyarakat. Bukan hanya diam berselimut, dengan tujuan mengagungkan Allah, membersihkan diri dari dosa, dan bersabar dalam perintah-Nya, akan tetapi melakukan gerakan sosial yang positif.
Membangun dan menggerakan pendidikan, kesehatan, ekonomi, mendirikan pusat pengendalian sampah, melakukan gerakan peduli lingkungan hidup, membantu logistik mereka yang mermerlukan tetapi berketiadaan, peduli anak yatim, para lansia, anak-anak yang memerlukan bea siswa, membantu atau ikut memfasilitasi probatan orang sakit yang tak punya kemampuan.
Penyintas Musibah.Di dalam konteks paling mendesak sekarang adalah puasa dalam solidaritas sosial bersama para penyintas banjir, galodo dan tanah bergerak di Sumatra dan khususnya Sumbar. Nyawa keluarga, rumah, harta penunjang kehidupan yang hilang ditelan galodo dan banjir. Itulah yang disebut gerakan sosial positif. Paling tidak melaklukan provokasi, inspirasi dan motivasi untuk masalahah (kebaikan) dankonstruktif.
Puasa, seperti yang sudah ditayangkan di atas adalah repleksi tatanan individual sekaligus menyatakan manisfestasi solidaritas-kesetiakwanan di kalahaus dan lapar. Sebagai retret kolektif-massal yang memberikan kekuatan ikatan kokoh dengan semua pihak umat dan kemanusiaan.
Dengan begitu individu terdorong lebih peka terhadap penderitaan kaum dhuafa, penyintas musibah dan bencana, mendorong semangat berbagi (sedekah, zakat fitrah) dan kebersamaan, serta membentuk karakter yang lebih baik dalam interaksi sosial (humanisasi, liberasi, dan transendensi), menjadikannya latihan untuk menjadi makhluk sosial yang lebihaktif dalam kebaikan bersama.***


























