Jebakan Iran dan Logika Sejarah
Herodotus, filsuf sejarah Yunani kuno (484--425 SM), pernah menulis, "Force has no place where wisdom is required." ("Kekuatan tidak memiliki tempat ketika kebijaksanaan dibutuhkan.") Lalu, Jalaluddin Rumi (1207--1273) menambahkan, "The wound is the place where the Light enters you." Luka yang ditimbulkan perang justru bisa menjadi pintu bagi cahaya ketahanan.
Baca Juga: Ekothoelogi Berbasisi Nilai Islam
Khomeini (1902--1989) juga menegaskan, "Iran is not afraid of any power, for our strength lies in faith and unity." ("Iran tidak takut pada kekuatan apa pun, karena kekuatan kami terletak pada iman dan persatuan.")
Sementara itu, jauh sebelum Rumi dan Khomeini, Al-Qur'an telah mengingatkan, "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah [2]: 153).
Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan besar sering kali jatuh bukan karena lemahnya senjata, melainkan karena gagal membaca logika tanah yang mereka injak.
Dalam "jebakan Iran", dunia kembali diingatkan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan militer, tetapi juga oleh daya tahan sebuah bangsa yang memilih bertahan dengan iman, kesabaran, dan persatuan.
Wa Allahu a'lam bi al-shawab. (*)
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: padek.jawapos
Related news
Ekotheologi Berbasis Nilai Islam
Kolom Shofwan Karim - June 8, 2026
Telaga Kreatif: Generasi Muda Muslim
Kolom Shofwan Karim - June 7, 2026
Bahagia, Menahan Luka di dalam Diam
Kolom Shofwan Karim - April 13, 2026


























