Umran: Kegelisahan Zaman dan Terapi Ibnu Khaldun
Umran: Kegelisahan Zaman dan Terapi Ibnu Khaldun
Oleh Shofwan Karim
[Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar]
Harga-harga bergerak, menembus langit-langit cemas. Kebutuhan pokok merayap naik layaknya beban harian yang tak berkesudahan. Korupsi merusak sendi-sendi keadilan. Aturan hukum kerap tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Ketimpangan pendapatan yang menganga lebar antara segelintir elite pemegang status mapan dan kaum awam yang terhimpit membuat mayoritas masyarakat merasa tercekik. Pada kawasan tertentu, kabut asap dan antrean panjang bahan bakar minyak menyertai siklus musibah yang seakan tiada jedda. Di panggung makro, jagat dunia: Timur Tengah, Eropa, dan Amerika sedang tak menentu. Padahal dunia adalah panggung raksasa, sistem kehidupan global saling terkait, topang-menopang. Yang satu rusak, yang lain sakit.
Dalam situasi sosio-politik-ekonomi-perang, keamanan dunia dan regional yang demikian runyam, di manakah kita harus mencari pegangan?
Pertanyaan ini menuntun kita melintasi lorong waktu menuju abad ke-14 Masehi, menemui seorang begawan sosiologi, politik, dan ekonomi Islam: Ibn Khaldun (1332--1406 M). Melalui karya monumental beliau, Al-Muqaddimah, Ibn Khaldun menawarkan pembacaan bahwa krisis sosial (social unrest) bukanlah sekadar anomali acak, melainkan hukum besi peradaban (umran) yang tunduk pada siklus deterministik. Sesuatu yang merujuk pada fenomena, data, atau variabel yang pergerakannya mengikuti pola perulangan yang pasti, tetap, dan dapat diprediksi secara matematis dari waktu ke waktu.
Bagi Ibn Khaldun, denyut nadi sebuah masyarakat bermula dari konsep 'asabiyah—sebuah simpul solidaritas insaniah, kohesi sosial, dan group feeling yang mengikat jiwa kolektif sebuah bangsa. 'Asabiyah lahir dari rahim perjuangan, tumbuh dalam kesederhanaan, dan mencapai puncak kejayaannya tatkala sebuah peradaban menegakkan keadilan. Namun, hukum alam berputar. Siklus peradaban bergerak menuju apa yang disebut oleh Ibn Khaldun sebagai Fase Senil atau penuaan sosial.
Pada fase kemunduran ini, ketika kekuasaan terkonsentrasi di tangan segelintir elite yang tenggelam dalam kubangan kemewahan dan hedonisme, monopoli kekayaan merusak etos kerja. Pemerintah dan birokrasi kehilangan legitimasi moral karena rakyat tak lagi menaruh kepercayaan pada kelompok penguasa awal. Krisis fiskal makro meletus ketika gaya hidup elite yang kian tambun menuntut pajak tinggi, sementara sektor riil—petani, pedagang kecil, dan pengrajin—merasa tertekan hingga menunggu masa ambruk.
Ketika keadilan runtuh, peribahasa ekonomi berlaku: tatkala keadilan rusak, modal lari dan kemakmuran justru anjlok seketika. Satu per satu pilar moral lenyap, digantikan oleh kriminalitas merajalela, ketidakpastian hukum, dan kerentanan terhadap intervensi luar.
https://www.facebook.com/shofwanbin.abdulkarim
https://www.instagram.com/shofwankarim/
https://x.com/shofwankarims
https://www.youtube.com/feed/you
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: https://www.padangekspres.id/1000-way/118217806304/umran-kegelisahan-zaman-dan-terapi-ibnu-khaldun
Related news
Jebakan Iran dan Logika Sejarah
Kolom Shofwan Karim - June 16, 2026
Ekotheologi Berbasis Nilai Islam
Kolom Shofwan Karim - June 8, 2026
Telaga Kreatif: Generasi Muda Muslim
Kolom Shofwan Karim - June 7, 2026
Bahagia, Menahan Luka di dalam Diam
Kolom Shofwan Karim - April 13, 2026


























