Umran: Kegelisahan Zaman dan Terapi Ibnu Khaldun

Monday, October 26, 2026 09:34 AM | Kolom Shofwan Karim
Umran: Kegelisahan Zaman dan Terapi Ibnu Khaldun
Umran: Kegelisahan Zaman dan Terapi Ibnu Khaldun. Ilustrasi : SK-AI Gemini
Zuhud, Wara", Qana

Lebih jauh, Ibn Khaldun menguliti bahaya Zulm (kezaliman), terkhusus tatkala negara terjebak dalam apa yang dapat dianalogikan sebagai State Commercialism (Kapitalisme Negara yang rakus). Ketika penguasa turut bermain sebagai pedagang bebas yang bersaing langsung dengan rakyat kecil, pasar kehilangan keadilannya. Pelaku usaha kecil tergilas, pengangguran meroket, dan jaring pengaman finansial hancur.

Dalam diskursus modern yang selaras dengan pemikiran Khaldunian, intervensi pajak yang berlebihan dan perampasan hak milik (property rights) justru mematikan gairah berproduksi. Ketika penegakan hukum direduksi sekadar menjadi retorika moral tanpa substansi, dan al-'adlu (keadilan) dikhianati oleh tirani kekuasaan, ikatan komunal retak berkeping-keping. Negara tidak lagi menjadi pelindung, melainkan mesin penindas yang menelan warganya sendiri.

Hari ini, siklus penuaan peradaban itu menemukan manifestasinya yang paling canggih dalam era digital. Di tengah himpitan ekonomi harian—mulai dari lonjakan harga, trurunnya nilai mata uang lokal, dan inflasi yang terasa menggerus daya beli—masyarakat modern terperangkap dalam labirin psikologis yang kelam. Lahirlah sinisme massal, apatisme politik, hingga fenomena "mencak-mencak" sendiri sebagai bentuk perlawanan pasif.

Bersamaan dengan itu, di era kontemporer, disintegrasi 'asabiyah diperparah oleh algoritma dunia maya. Transmisi nasab dan ikatan kultural tradisional kini terpotong oleh layar ponsel pintar melalui platform seperti FB, X, TikTok, dan Instagram. Ruang-ruang digital bermetamorfosis menjadi echo chambers (kamar gema) yang menyuburkan polarisasi ekstrem.

Eksploitasi kebencian dirawat melalui outrage economy (ekonomi kemarahan), di mana permusuhan identitas dipelihara demi mendulang atensi. Fragmentasi sosial semakin sempurna tatkala masyarakat dipecah ke dalam faksi-faksi digital yang saling menegasikan, melemahkan daya tahan kolektif menghadapi krisis nyata di dunia fana.

Lantas, di manakah solusi bagi masyarakat yang gelisah ini? Jawaban Ibn Khaldun tidak berhenti pada analisis materialistis ekonomi politik, melainkan menembus dimensi transendental. Pemulihan peradaban menuntut kembalinya integritas moral (akhlaq) dan penegakan hukum yang berpihak pada kaum tertindas.

Secara spiritual-Islami, Ibn Khaldun memandang bahwa keserakahan material harus diimbangi dengan keasadaran eskatologis. Ketika manusia melupakan orientasi keilahian dan tenggelam dalam materialisme parsial, kehancuran hanyalah masalah waktu. Terapi atas kegelisahan masyarakat modern menuntut adanya rekonstruksi 'asabiyah baru—bukan lagi berlandaskan kesukuan sempit atau polarisasi digital yang memecah belah, melainkan solidaritas kemanusiaan yang berakar pada nilai-nilai keadilan universal (al-'adlu asas al-mulk).

Hanya dengan meredam egoisme elite, memulihkan keadilan distributif, serta membersihkan ruang digital dari candu kebencian, bangsa ini dapat keluar dari cengkeraman fase senil peradaban. Ibn Khaldun mengingatkan kita bahwa kebangkitan sebuah bangsa selalu dimulai dari keberanian untuk menegakkan kebenaran di atas reruntuhan kezaliman. Allahu a'lam. (***)

Pages:
1 2

https://www.facebook.com/shofwanbin.abdulkarim

https://www.instagram.com/shofwankarim/

https://x.com/shofwankarims

https://www.youtube.com/feed/you

Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: https://www.padangekspres.id/1000-way/118217806304/umran-kegelisahan-zaman-dan-terapi-ibnu-khaldun

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim