HBN, Silsilah dan Anekdot Herder
Akan tetapi saudara dari Hj. Thony di berbagai Dusun, dulu disebut Marga Jujuhan (kini menjadi 2 Kecamatan: Jujuhan dan Jujuhan Ilir) lumayan tahu, terutama selain di Sirih Sekapur juga Ujung Tanjung, Rantau Ikil Pasar Rantau Ikil. Nenek H. Syawal, Nenek Kadir (dikenal saya dengar orang menyebut Pak Itam Kadir). Nenek Syawal dan yang senior ahli adat. dan Nek Kadir juga begitu. Bedanya yang satu senior, yang satu yunior. Begitu pula Kakek Hussein DSJ sangat lihai dan pintar bicara soal adat berserambah, pepatah, petitih. Mereka isi mengisi menyelesaikan masalah masyarakat dan adat yang timbul. Di Ujung Tanjung ada Nenek Menahil.
Ayah saya ikut menjadi yunior mengiringi seniornya tadi. Sepulang dari rapat atrau sidang Ninik-Mamak, kepada Emak (ibu) saya Abak selalu bercerita tentang apa yang dibicarakan dan diselesaikan. Saya sering menyimak itu. Dalam memori saya menangkap mereka semua adalah tokoh di masanya.
Yang lain amat berkesan bagi saya ketika hari baik bulan baik (istilah masa itu) mereka para senior tadi dan tokoh saling berkunjung di tiga Dusun itu, Rantau Ikil, Sirih Sekapur dan Ujung Tanjung. Yang paling meriah itu adalah hari kedua atau ketiga selesai Shalat Idul Fitri. Membantai jawi atau kerbau, sedekah atau alek nagari (negeri). Semacam pesta rakyat. Musabawah Baca al-Quran. Lomba pacu sampan. Lomba panjat batang pinang. permainan anak dan remaja negeri yang dilombakan. Lelang Singgang Ayam. Semua itu menari-nari dalam memori saya seakarang tentang masa kecil itu di Dusun-dusun tadi.
Pada tahun 1964 saya utusan Dusun Sirh Sekapur ikuti Musabaqah al-Quran tingkat Marga (sekarang Kecatamatan). Guru mengaji saya namanya Adul Aziz (kami semua menyebut Nek Dola Haji) mengajarkan qiraat dan tajwid oleh Nek Ibrahim (menantu Dola Haji). Istri Ibrahim, Induk Taksiah, pernah menikah dengan ayah saya Abdul Karim. Konon hanya 3 bulan. Itu terjadi sebelum Ayah saya menikah dengan Saleha di Pelayangan, Batang Tebo. Konon karena H. Thaat, kakeknya menikah di situ dan Abak ikut beberapa waktu menikahi wanita lain di situ. Belakangan ayah menikah dengan ibu saya. Konon ibu saya mrniksh udis mufs drngsnn Abak. Kami beraudara 10 orang. Sementara Abak dengan dua induk (saya pnggil) sebelumnyan tak punya anak.
Kembali Quran, mengajarkan irama kepada saya adalah Abak Abdul Karim. Abak memang bagus suaranya dan menghuasai bebeerpa irama. Beliau suka berqashidah juga. Waktu muda bliau menjadi bilal (muazain) serta tua menjadi imam dan Busya atau ustazd keliling. Bahkan tahun 1970-an ada honor dari kementerian agama. Kira-kira kalau sekarang muballigh fungsional non ASN kemenag seperti Ketua RT saya yang merankap Imam di Masjid kami di salah satu kawasan Tunggul Hitam, Padang.
Ndak taunya, pada Musabaqah Tilawatil Quan tingkat Marga tadi, eh, jadilah saya juara. Hadiahnya mendapat bintang emas ukuran mini. Bekal itu, tahun berikutnya saya menjadibutusan Marwga Jujuhan untuk Musabaqah al-Quran Tingkat Kecamatan Tanah Tumbuh. Waktu itu saya sudah kelas 1 SMP di Ibukota Kecamatan tadi. Di sini saya menjadi juara 2. Hadiahnya uang 35 ribu rupiah. Saya belikan ke baju Tetoron yang masa itu sangat mahal dan keren kala itu.
Keluarga Besar
Kembali ke HBN. Para orang tua, kakek, nenek dan tali temali seangkataan ayah saya bahakna di bawah itu sudah dominan dipanggil Allah. Kini yang antri menunggu giliran menghadap-Nya, tinggal Cucu, Cicit, dan cicit-cicit HBN. Akan tetapi kalau ditelusuri secara detail mereka yang tinggal dan bekerja atau hidup di Provinsi Jambi di berbagai kota di dalam negeri dan mancanegara, banyak sekali.
Beberapa tahun lalu, oleh seorang Cicit HBN yang memanggil saya Abang, karena setara dalam silsilah keturunan, mengirimkan catatan. Adik satu moyang itu bernama Fajar Trilaksana Moedarlis. Tamatan S.2 Ekonomi Bisnis UMY itu menikah dengan wanita Jepang dan bekerja di Tokyo. Isterinya, Minami telah memberikan keturunan kepadanya 1 laki dan 2 perempuan.
Fajar menulis, keturunan HBN 1325 orang. Kininyang berserak di muka Bumi Allah ini. Jumlah itu belum semuanya dan belum diperbarui karena banyak yang baru lahir. Suatu waktu saya ingin menuliskan memorabilia tentang HBN ini. Semoga Allah melapangankan waktu nantinya.
Sejarah dan Anekdot "Herder"
Journalist: Anton Hilman
Editor: Shofwan Karim
Related news
Bahagia, Menahan Luka di dalam Diam
Kolom Shofwan Karim - April 13, 2026
Lupakan Perbedaan, Sambutlah Kebersamaan
Kolom Shofwan Karim - March 24, 2026
Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026
Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026


























