Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial

Thursday, February 26, 2026 07:51 PM | Kolom Shofwan Karim
Hikmah Ramadhan (4):  Puasa dan  Rekognisi Sosial
Buku Shofwan Karim (Dok/Ist)
Zuhud, Wara", Qana

Hadis Kudsi. Di dalam sebuah hadist qudsi (isi, makna hakiki dari Allah, kalamullah, sementara lafaz, teks, matan, oleh Nabi Muhammad saw) diriwayatkan oleh Bukhari No 1761 dan Muslim No 1946 dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu'alai wa sallam bersabda, "Allah berfirman, 'semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia (puasa) untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.

Penggalan ujung kalimat hadist qudsi itu, disebut rekognisi Allah terhadap ibadah puasa muslim. Kapan kita tahu rekognisi Allah itu? Hanya Allah yang Maha Tahu.

Secara umum kata rekognisi adalah pengakuan, penghargaan, atau pengenalan resmi terhadap kompetensi, prestasi, pengalaman sesorang. Dalam hal ini ibadah puasa.

Dimulai dari rekognisi awal Ramadhan sebagai racikan syariah dan antropo-puasa (berpuasa di sisi kemanusian). Menurut beberapa media, berpuasa yang dimulai tanggal 18 Februari ada 13 negara. Sementara yang menyatakan resmi puasa dimulai 19 Februai adalah 20 negara, termasuk Indonesia.

Read also: Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna

Meski sudah diterapkan 2018, imkanur rukyat 3' (derjat) tetapi baru benar-benar disepakati oleh MABIMS(Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) tahun 2022.

Dan dalam konteks Indonesia, Muhammadiyah yang sudah puluhan tahun menerapkan hisab hakiki, wujudul hilal di tanah air berdasar hitungan astronomi, baru tahun ini (2026) merujuk resmi penerapan HKGT (Hijrah Kalender Global Tunggal) bersama 13 negara yang memulai 1 Ramadan 18 Februari tadi.

Di antara negara-negara itu adalah Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, Sudan, Palestina, Kuwait, Yaman, Bahrain, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis dan Amerika.

Antropo-puasa. Di dalam antropo-puasa, rekognisi pribadi dan sosial terhadap perilaku berpuasa seorang muslim tak lengkap kalau hanya disigi dari konteks fikih, ayat dan hadis atau teologi, ilmu tauhid dan ilmu kalam atau akidah semata.

Read also: Hikmah Ramadhan (2) : Puasa, Teologi Pengampunan Dosa

Lebih jauh praktik puasa dapat pula diamati dan dilengkapi dengan prilaku nyata dalam bentuk kebiasaan, budaya dan apa yang sesungguhnya tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Pages:
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Anton Hilman

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim