Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna

Thursday, February 26, 2026 08:01 PM | Kolom Shofwan Karim
Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
Berhenti Berbohong (Free Dok/Ist)
Zuhud, Wara", Qana

Oleh karena itu, keaneka-ragaman religiusitas warga dan masyarakat dianggap sebagai konstruksi budaya. Hal yang bagi kalangan ulama dan agamawan murni dianggap sinkretik. Mempercampur adukkan agama dan budaya.

Para antropolog tidak menilai kebenaran ajaran agama (normatif), melainkan bagaimana manusia menghayati dan menanamkan agama (historis) dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, apa yang menjadi praktik dan perilaku. Kalau bertentangan dengan norma dan teks syar'i maka yang salah adalah konstruk budaya bukan agamanya.

Dengan begitu, seharusnya nilai dan aura beragama membentuk kognisi sosial untuk memandu perilaku individu, kelompok dan komunitas masyarakat.

Di sinilah terjadi sinkronisasi simbol dan makna. Agama menyediakan simbol-simbol yang digunakan masyarakat untuk memahami dunia, memecahkan masalah, dan memberikan makna pada pengalaman hidup.

Agama adalah yang dilaksanakan. Ritualitas-ibadah seperti shalat, puasa dan rukun lain dalam Islam, misa, ekaristi (Katolik), ibahat atau kebaktian (Kristen Protestan) puja atau yajna (Hindu), puja dan meditasi (Budha) dan upacara kolektif menjadi menjadi faktual secara pribadi dan sosial. Melahirkan realitas kebaikan dalam kehidupan sehari-hari pemeluk agama itu.

QS Al-Ankabut, 29: 45 dapat bermakna antropologis. Shalat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar.

- - -

"Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Di sebelah itu agama memiliki fungsi sosial. Agama sering kali bertindak sebagai faktor pemersatu dan pedoman moral dalam interaksi sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Maka lumrah ada pihak tertentu yang mencoba menundukkan prilaku beragama itu sebagai program yang harus diarahkan kepada maksud kebaikan. Di seberang itu, bahkan kadang mau dikendalikan.

Bahasa halusnya, untuk kemajuan dalam hidup bernegara dan berbangsa. Maka perlu moderasi beragama. Deradikalisasi. Pembinaan kerukunan. Pendidikan berdasarkan cinta dan seterusnya. Aura agama menjadi jembatan kohesi sosial untuk kelanggengan dan keharmonisan masyarakat.

Pages:
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim