Lupakan Perbedaan, Sambutlah Kebersamaan

Malam itu, beberapa jam sebelum sidang isbat, di sebuah musala kecil di pinggir kota, saya mendengar dua orang bapak berdebat. Yang satu bersikukuh bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Jumat. Yang lain tak kalah yakin bahwa hilal tak mungkin terlihat, dan Sabtu adalah hari yang tepat untuk berhari raya.
"Sudah, Pak," kata saya memotong. " Sesuaikan saja dengan ilmu, pikiran rasional dan hati Nurani. Muhammadiyah dan Saudi Arabia serta beberapa nagara penganut Hijrah Kalender Global dengan hisab hakiki sesudah memutuskan. Atau nanti juga diumumkan pemerintah. Yang penting kita saling memaafkan."
Mereka tersenyum. Berjabat tangan. Lalu kembali menyantap kolak pisang hangat buatan istri salah seorang jamaah.
Itulah Indonesia. Boleh berbeda, tapi tetap dalam kebersamaan. Dan Idul Fitri 1447 H ini—entah Jumat atau Sabtu, 20 atau 21 Maret 2026—insya Allah akan kita rayakan dengan satu hati: kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga.
Tapi di balik takbir yang menggema, ada denyut nadi lain yang tak kalah dahsyat. Ia bernama zakat.
Coba bayangkan angka ini: Rp4,2 triliun hingga Rp4,3 triliun. Itu potensi zakat di Sumatera Barat setiap tahunnya. Namun Baznas baru bisa merealisasikan sekitar Rp475 miliar. Masih ada peluang lautan yang belum tergarap.
Dan secara nasional? Potensinya mencapai Rp327 triliun. Angka yang membuat kita menghela napas. Sebesar apa itu? Coba bandingkan dengan APBD provinsi-provinsi kita. Atau bayangkan berapa banyak sekolah yang bisa dibangun, berapa banyak rumah sakit yang bisa beroperasi, berapa banyak ibu-ibu yang bisa tersenyum karena anaknya tak lagi kelaparan.
Empat tahun silam, Ketua Baznas Sumbar pernah berkata dengan jujur kepada media: potensi zakat di Sumbar mencapai setengah dari APBD provinsi. Namun yang terhimpun saat itu baru Rp27 miliar hingga akhir Ramadhan. Target setahun hanya Rp30 miliar.
Jarak antara potensi dan realisasi, bak langit dan bumi.
Tapi tunggu dulu.
Apakah itu berarti umat Islam Indonesia pelit? Saya justru melihat pemandangan sebaliknya setiap kali Ramadhan tiba.
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Anton Hilman
Source: mimbarminang
Related news
Bahagia, Menahan Luka di dalam Diam
Kolom Shofwan Karim - April 13, 2026
Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026
Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026


























