Lupakan Perbedaan, Sambutlah Kebersamaan
Lihatlah kampung-kampung kita. Di nagari-nagari Minang, di jorong-jorong terpencil, para perantau mulai mengirimkan uang. "Ini untuk zakat fitrah kami," kata mereka melalui telepon. "Tolong bagikan ke fakir miskin di kampung."
Di masjid-masjid kota, takmir sibuk mendata mustahik. Di kantor-kantor, panitia zakat dibentuk. Perusahaan-perusahaan besar seperti Semen Padang telah puluhan tahun mengelola zakat karyawannya. Muhammadiyah punya Lazismu, NU punya Lazisnu, Tarbiyah Islamiyah punya Lazis, bahkan PII—organisasi alumni mahasiswa—punya Lazisku.
Puluhan ribu lembaga amil tersebar di 74.093 desa di Indonesia. Di tiap desa, bisa jadi lebih dari satu lembaga. Belum lagi yang dikelola keluarga, langsung diberikan kepada tetangga yang membutuhkan.
Jadi, ketika ada yang bilang potensi Rp327 triliun belum tergarap maksimal, sebenarnya itu belum sepenuhnya benar. Umat telah menjalankannya. Hanya saja, tidak semua melalui Baznas.
Pada tahun ini, 2026, dunia sedang tidak baik-baik saja.
Perang Israel-Amerika melawan Iran mengguncang perekonomian global. Harga-harga naik. Nilai tukar rupiah ditekankan. Di kampung-kampung, para perantau mulai mengeluh: "Dagangan sepi, Bu.Tahun ini mungkin fitrahnya pas-pasan."
Tapi justru di sinilah letak keistimewaan ajaran kita. Dalam QS Ali Imran: 133--134, Allah memuji orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit. Lapang bersyukur, sempit tetap berbagi. Itulah takwa.
Baznas Sumbar untuk tahun ini menetapkan zakat fitrah Rp50.000 per jiwa untuk beras premium, atau setara 2,5-3,5 kg beras. Fidyah berkisar Rp23.000 hingga Rp45.000 per hari. Angka yang mungkin membuat sebagian orang berpikir ulang, tapi bagi yang lain, tetap dijalankan dengan ikhlas.
Saya teringat seorang nenek di kampung halaman. Setiap Ramadhan, meski hanya punya uang pas-pasan, ia selalu menyisihkan beras terbaiknya untuk zakat. "Yang penting niatnya," katanya. "Allah yang akan melipatgandakan."
Idul Fitri kali ini mungkin akan berbeda. Di tengah kabar perang dan resesif, kita tetap akan bersujud di lapangan-lapangan, berpelukan dengan tetangga, dan menyantap ketupat sayur di rumah mertua.
Tapi dibalik semua itu, ada sebuah peradaban yang sedang dibangun. Peradaban berbagi yang tak lekang oleh waktu. Peradaban yang menjadikan Indonesia—dengan segala potensi Rp327 triliun—bisa menjadi contoh dunia tentang bagaimana agama melahirkan kedermawanan.
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Anton Hilman
Source: mimbarminang
Related news
Bahagia, Menahan Luka di dalam Diam
Kolom Shofwan Karim - April 13, 2026
Hikmah Ramadhan (5): Ketika Puasa Kehilangan Makna
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026
Hikmah Ramadhan (4): Puasa dan Rekognisi Sosial
Kolom Shofwan Karim - February 26, 2026


























