Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Sunday, September 20, 2026 01:22 PM | Opini
Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan
Ilustrasi foto.shofwankarim.id
Zuhud, Wara", Qana


Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Oleh:Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA
Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005 dan Rektor UM 2005-2013, Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Muhammadiyah memandang Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai realitas sejarah dan kebudayaan yang terus berproses. Ia tidak menempatkannya semata sebagai perayaan tanggal dalam kalender Hijriah, apalagi sebagai seremoni keagamaan yang selesai ketika mubaligh telah turun mimbar, jamaah pulang dan pengeras suara dimatikan. Maulid justru dapat menjadi sebuah pertanyaan: sejauh mana kecintaan kepada Nabi menjelma menjadi akhlak sosial?

Pertanyaan itu menemukan relevansinya kembali hari ini. Di tengah masyarakat yang mudah terbelah oleh perbedaan politik, identitas, informasi digital, bahkan oleh kata-kata yang ditulis tergesa-gesa di media sosial, keteladanan Nabi Muhammad terasa bukan sekadar kisah masa silam. Ia adalah etika yang terus menuntut untuk dihidupkan.

Arsip Muhammadiyah yang dimuat dalam Suara Muhammadiyah pada 1971 memberikan perspektif yang menarik. Peringatan Maulid diarahkan bukan sekadar sebagai acara rutin, melainkan sebagai media dakwah, gerakan perdamaian, dan ruang kaderisasi bagi Angkatan Muda Muhammadiyah. Penyelenggaraan bahkan diserahkan kepada kaum muda agar mereka tidak hanya menjadi objek dakwah, tetapi sekaligus subjek yang menggerakkan dakwah.

Gagasan itu sesungguhnya jauh lebih maju daripada sekadar mengatur sebuah acara. Di sana terkandung filsafat pendidikan sosial: agama akan hidup apabila nilai-nilainya diterjemahkan oleh manusia ke dalam kenyataan. Dakwah tidak berhenti pada kata-kata, tetapi bergerak menjadi tindakan. Maulid tidak berakhir pada pujian kepada Nabi, tetapi berlanjut menjadi ikhtiar menghadirkan masyarakat yang damai dan sejahtera.

Pandangan tersebut dipertegas KH Abdur Rozaq Fachruddin atau Pak AR dalam tulisannya, "Memanfaatkan Hari Maulid Nabi Muhammad Saw", yang dimuat Suara Muhammadiyah Nomor 5 Tahun 1976. Pak AR mengakui bahwa Maulid bukan perintah khusus Rasulullah dan bukan pula ketetapan ibadah resmi dari Allah. Namun, ia melihat adanya ruang kebajikan yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperluas dakwah Islam.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan keteladanan melalui kejujuran, perdamaian, kepedulian, keadilan, dan kemaslahatan dalam kehidupan masyarakat.

Di sinilah kebijaksanaan keagamaan menemukan bentuknya. Sesuatu yang tidak diwajibkan tidak otomatis harus ditolak; sesuatu yang tidak diperintahkan secara khusus juga tidak serta-merta harus menjadi ritual yang dianggap wajib. Muhammadiyah, melalui pandangan Majelis Tarjih, menempatkan Maulid sebagai perkara ijtihadiyah: tidak ditemukan dalil yang memerintahkannya, tetapi juga tidak ditemukan dalil yang melarangnya. Karena itu, yang terpenting adalah kemaslahatan dan kandungan kegiatannya.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa keberagamaan tidak selalu harus dipertentangkan dalam kategori hitam-putih. Ada wilayah kebudayaan, kemaslahatan, dan kreativitas dakwah yang membutuhkan kejernihan berpikir. Agama memiliki prinsip, tetapi manusia juga hidup dalam ruang sejarah yang terus berubah. Maulid, dengan demikian, dapat dibaca sebagai jembatan antara teks dan konteks.

Pages:
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: mimbarminang

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim