Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan

Sunday, September 20, 2026 01:22 PM | Opini
Maulid Nabi dan Jalan Panjang Menghidupkan Keteladanan
Ilustrasi foto.shofwankarim.id
Zuhud, Wara", Qana

Yang paling penting dari peringatan Maulid bukanlah berapa banyak orang yang hadir, seberapa megah panggung didirikan, atau berapa panjang acara berlangsung. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah setelah Maulid masyarakat menjadi lebih jujur, lebih peduli, lebih santun, lebih damai, dan lebih bertanggung jawab?

Pak AR membawa kita kepada inti persoalan itu melalui satu kata yang sederhana tetapi fundamental: Al-Amin—orang yang dapat dipercaya. Sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, masyarakat telah mengenalnya sebagai pribadi yang terpercaya. Kepercayaan itu bukan gelar kosong. Ia tumbuh dari perilaku yang konsisten: sebagai anak, pedagang, suami, pemimpin, panglima, pengelola amanah publik, hingga pembawa risalah.

Dalam perspektif sosial, kepercayaan adalah modal peradaban. Sebuah masyarakat tidak akan kokoh apabila warganya kehilangan kejujuran. Negara akan rapuh apabila jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah. Ekonomi akan kehilangan martabat apabila keuntungan dibangun di atas penipuan. Politik akan menjadi gaduh apabila kebenaran dikalahkan oleh kepentingan.

Karena itu, meneladani Nabi bukan pertama-tama soal memperbanyak ungkapan cinta, melainkan memperbesar kesediaan berkorban untuk kebenaran. Pak AR mengingatkan bahwa kejujuran Nabi menuntut pengorbanan perasaan, kehormatan, pikiran, waktu, kekuatan, harta, bahkan jiwa. Kejujuran itu diarahkan kepada keridaan Allah dan keselamatan masyarakat. Di titik inilah Maulid memperoleh makna filosofisnya.

Kita memperingati kelahiran seorang manusia yang mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terutama terletak pada kekuasaan, tetapi pada amanah; bukan pada kemegahan, tetapi pada akhlak; bukan pada banyaknya pengikut, tetapi pada kemampuan menghadirkan rahmat bagi kehidupan.

Lebih dari lima puluh tahun setelah instruksi Muhammadiyah tersebut, pesan itu terasa semakin aktual. Dunia digital menghadirkan kecepatan luar biasa, tetapi tidak selalu menghadirkan kedalaman. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan belum tentu bertambah. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan. Karena itu, dakwah yang membawa semangat perdamaian bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan zaman.

Kaum muda memiliki posisi penting dalam konteks ini. Sebagaimana gagasan Muhammadiyah pada 1971, mereka semestinya bukan sekadar penonton dalam kegiatan keagamaan. Mereka adalah pelaku sejarah. Energi, kreativitas, literasi digital, dan keberanian mereka dapat diarahkan menjadi kekuatan dakwah yang mencerdaskan, mendamaikan, dan membangun solidaritas sosial.

Maka, barangkali Maulid terbaik adalah Maulid yang tidak selesai pada hari Maulid. Ia berlanjut dalam kejujuran seorang pedagang, keadilan seorang pemimpin, ketulusan seorang pendidik, kepedulian seorang warga, dan keberanian seorang anak muda untuk membela kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang.

Nabi Muhammad SAW telah wafat lebih dari empat belas abad lalu. Namun, teladannya tidak pernah menjadi masa lalu. Ia hidup sejauh manusia bersedia menghidupkannya.

Maka memperingati Maulid pada akhirnya bukan hanya mengenang kapan Nabi dilahirkan. Yang jauh lebih penting ialah bertanya kepada diri sendiri: nilai apa dari kelahiran itu yang telah kita lahirkan kembali dalam kehidupan kita?

Jika jawabannya adalah kejujuran, perdamaian, kepedulian, keadilan, dan kemaslahatan, maka Maulid benar-benar telah berubah dari seremoni menjadi gerakan.

Pages:
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: mimbarminang

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim