Politik Besar Hidung dan Patah Arang: Tawaran Rasional
Dalam perjalanan sejarah, lebih kurang 36 tahun belakangan ini ternyata warga Muhammadiyah relatif selamat secara dan mematuhi rambu rambu tersebut. Akan tetapi warga Muhammadiyah sebagian besar tetap saja, kadang kala terombang-ambing di tengah lautan politik dalam 12 kali Pemilu (1971-2024).

Kenyataan Empirik
Di dalam suasana demikian tidak terpungkiri bahwa ada masalah-masalah laten maupun manifes, di antaranya sebagai berikut.
Read also: International Visitor Leadership Program of US Department of State "Grassroots Democracy" II
Pertama, jabatan sebagai pimpinan, aktivis atau paling tidak sebagai anggota partai selalu dikaitkan dengan wujud, keberadaan atau eksistensinya sebagai warga Muhammadiyah.
Bagi yang pro politik, ini dianggap keuntungan. Apalqgi kalua tokoh itu berkibar sukses, bagi yang kontra dianggap hal tu merugikan citra Muhammadiyah. Terutama kalau yang bersangkutan "jatuah tapai".
Kedua, tidak selalu setiap tokoh Muhammadiyah yang duduk di Partai mencerminkan ketinggian akhlak politik yang diamanahkan maksud Muhammadiyah, sehingga tak jarang menuai buah busuk bagi Muhammadiyah.
Ketiga, konflik kepentingan partai dapat merembes ke dalam Muhammadiyah. Sekedar misal, dalam memposisikan masing-masing kader parpol dalam kepemimpinan Muhammadiyah, atau sebaliknya dan di luarnya.
Keempat, ada pergeseran bahkan pergesekan suka atau tidak suka bagi sesama warga
muhammadiyah.
Kelima,menumbuhkan sikap ambivalen, ambiguitas danatau loyalitas ganda sehingga terkadang kala kegiatan-kegiatan dalam tugas kepemimpinan internalMuhammadiyah dan amal usahaada yang terabaikan.
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Anton Hilman
Source: https://www.kompasiana.com/shofwankarim/65ff74bfde948f6cbc6a8212/politisi-besar-hidung-dan-patah-arang
Related news
Delapan Puluh Tahun dan Sebuah Cermin
Opini - August 13, 2025
Rekomendasi Paslon, Duduk dan Terduduk
Opini - March 30, 2025


























