Keresik Bertahan: Dialektika Eksistensial Manusia Senja

Tuesday, June 16, 2026 01:39 PM | Kolom Shofwan Karim
Keresik Bertahan: Dialektika Eksistensial Manusia Senja
Kresik bertahan. Ilustasi SK/AI
Zuhud, Wara", Qana

Di Indonesia, rata-rata nasional usia harapan hidup telah menunjukkan tren kenaikan positif hingga mencapai angka 74 tahun, meskipun fluktuasinya bervariasi antarprovinsi bergantung pada kualitas hidup masing-masing daerah.

Kini Indonesia, meski tanpa gembar-gembor, memiliki Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang diperingati setiap tanggal 29 Mei sebagai bentuk penghargaan atas jasa para orang tua kepada bangsa dan negara.

Di Taiwan, fenomena peningkatan usia harapan hidup, menurut Kementerian Dalam Negeri setempat, ditopang oleh standar medis yang tinggi, kesadaran nutrisi, serta budaya olahraga yang masif.

Setali dengan itu, terdapat dimensi teologis. Angka-angka statistik tersebut merupakan manifestasi dari determinasi takdir (qadar) Allah SWT yang bergerak di atas sunatullah, yakni hukum alam atau kausalitas material.

Islam memandang usia biologis sebagai ruang temporal yang diberikan oleh Sang Khaliq untuk menguji kualitas pengabdian manusia (QS Az-Zariyat: 56).

Usia harapan hidup tidak boleh sekadar dimaknai sebagai keberhasilan peradaban sekuler, melainkan harus dipahami sebagai perpanjangan kesempatan untuk menyempurnakan bekal ukhrawi.

Kelemahan Fisik sebagai Karunia

Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 54 memetakan ontologi penuaan manusia sebagai keniscayaan sunatullah.

"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS Ar-Rum: 54).

Ayat ini menegaskan bahwa fase lansia merupakan siklus sirkular ketika manusia dikembalikan pada titik kelemahan fisik menyerupai masa bayi.

Secara syar'i, penurunan fungsi jasmani dan rohani ini tidak menggugurkan harkat kemanusiaan mereka. Sebaliknya, Islam menempatkan para lansia pada kedudukan terhormat dalam struktur sosial-keagamaan.

Pages:
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: padek.jawapos.com

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim