Keresik Bertahan: Dialektika Eksistensial Manusia Senja

Tuesday, June 16, 2026 01:39 PM | Kolom Shofwan Karim
Keresik Bertahan: Dialektika Eksistensial Manusia Senja
Kresik bertahan. Ilustasi SK/AI
Zuhud, Wara", Qana

"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi generasi muda kami dan tidak mengerti hak-hak orang tua (lansia) kami." (HR At-Tirmidzi).

Oleh karena itu, instrumen pendukung pengasuhan lansia seperti caregiver, care worker, maupun pramurukti menjadi kewajiban kolektif (fardu kifayah) dalam rangka menegakkan pilar kemanusiaan berbasis syariat. Inilah bentuk aktualisasi nilai-nilai profetik.

Landasan teologis dari pengasuhan ini tercermin dalam firman Allah SWT ketika menceritakan penjagaan-Nya terhadap Nabi Musa AS:

"...Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS Taha: 39).

Ketika fungsi fisik para lansia melemah, Allah menggerakkan hati sesama manusia melalui kasih sayang-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menjaga mereka.

Keresik Spiritual Mencerahkan

Lensa tasawuf memandang masa lansia sebagai masa keemasan spiritual. Uban yang tumbuh dan kulit yang keriput bukanlah tanda pembusukan biologis, melainkan cahaya transendental (nur) yang mengingatkan kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.

"Janganlah kalian mencabut uban, karena uban itu adalah cahaya bagi seorang muslim pada hari kiamat." (HR Abu Dawud).

s penuaan merupakan tajalli (penyataan diri) Tuhan dalam asma-Nya Yang Maha Akhir (Al-Akhir). Ketika dunia mulai lepas dari genggaman jemari fisik seorang lansia, batinnya justru diajak untuk menggenggam hakikat keilahian.

Lansia yang berjalan kaki memenuhi target langkah di gawai mereka atau mengayuh sepeda berkilometer-kilometer menyusuri jalan kota dan desa merepresentasikan determinasi manusia yang tidak mau takluk pada pembusukan biologis.

Mereka bergerak bukan sekadar demi kebugaran kardiovaskular, melainkan sebagai bentuk zikir rijal al-ghaib, sebuah tarian eksistensial yang mensyukuri setiap helaan napas yang tersisa.

Pages:
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: padek.jawapos.com

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim