Keresik Bertahan: Dialektika Eksistensial Manusia Senja

Tuesday, June 16, 2026 01:39 PM | Kolom Shofwan Karim
Keresik Bertahan: Dialektika Eksistensial Manusia Senja
Kresik bertahan. Ilustasi SK/AI
Zuhud, Wara", Qana

Keresik Bertahan: Dialektika Eksistensial Manusia Senja

Keresik bertahan: dialektika eksistensial manusia senja

Oleh:Shofwan Karim(Dosen Pascasarjana UM Sumbar Pengamat, dan Penulis Esai)

PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam khazanah ekologi Nusantara purba, ada kosa kata klaras, kerisik, dan keresik dedaunan. Itu bukanlah simbol dari limbah nirguna. Keresik daun pisang secara tradisional difungsikan sebagai pemerah alami yang menghantarkan buah-buahan mentah menjadi matang.

Keresik daun kelapa kerap diikat menjadi suluh, menyebarkan pendar cahaya yang memandu langkah para tetua menembus gulita malam menuju surau untuk menunaikan salat Subuh.

Dua tamsil kosmologis ini laksana proklamasi eksistensial bahwa segala sesuatu yang tampaknya telah menua dan mengering di alam semesta sesungguhnya masih menyimpan daya guna yang transendental.

Read also: Dari Moratorium Menjadi Kenyataan: Transformasi IAIN IB Menjadi UIN Imam Bonjol

Di era kontemporer yang dihela oleh gelombang disrupsi digital, kecerdasan buatan, dan teknologi nirawak (drone), eksistensi aging society atau para warga senior (lanjut usia) kerap dipandang melalui kacamata utilitarianisme yang reduktif.

Lansia sering kali dikategorikan secara peyoratif sebagai beban demografis akibat penurunan fungsi fisik. Namun, secara filosofis dan teologis, fenomena penuaan merupakan fase krusial dalam siklus teologis manusia. Sebuah perjalanan kembali (al-ruju') menuju titik mula penciptaan dalam kondisi spiritual yang paripurna.

UHI, Perspektif Geososial dan Takdir Ilahiah

Berdasarkan data demografi global terkini, terdapat jurang variasi yang kontras pada usia harapan hidup (UHH/life expectancy). Monaco mencatatkan angka tertinggi di dunia dengan rata-rata 86,5 tahun, disusul San Marino (85,8 tahun), Hong Kong (85,6 tahun), Jepang (84,8 tahun), dan Taiwan (81,3 tahun).

Read also: Muhammadiyah Lahir, Tumbuh dan Berkembang dari Hindia Belanda, Asia Timur Raya Jepang dan Republik Indonesia

Sebaliknya, negara-negara di kawasan Sub-Sahara, seperti Nigeria, mencatatkan angka terendah yakni 54,6 tahun, diikuti Chad (55,2 tahun) dan Somalia (59,0 tahun).

Pages:
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: padek.jawapos.com

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim