Konvensi DMDI V, Ekonomi, Pelancongan dan Pelayanan yang Prima

Sunday, August 10, 2025 09:45 AM | DMDI
Konvensi DMDI V,  Ekonomi, Pelancongan dan Pelayanan yang Prima
Pidato Ketua DMDI Sumbar 2025-2030 Fadly Amran, AA., BBA., pada pelantikannya 08 Agustus 2025 di Padang (Foto Ist)
Zuhud, Wara", Qana

Berikutnya, ada agenda peningkatan kerjasama Dewan Perniagaan Melayu Melaka dengan Kamar Dagang dan Industri di negara DMDI. Meskipun penulis tidak melihat ada peserta dari Kadin Sumbar, tetapi ada usulan untuk membuka pameran dagang pada Rumah Minang. Usulan ini mungkin datang dari delegasi Sumbar yang hadir pada bilik biro ekonomi dua hari sebelumnya.

Di samping hal-hal yang ideal, dicanangkan pula beberapa bentuk bisnis kecil dalam membantu komunitas negeri DMDI. Kita di Indonesia mungkin menyebutnya Usaha Kecil Menengah (UKM). Misalnya modal bergulir untuk keluarga DMDI miskin seperti peternak dan penggemukan lembu (sapi).

Seperti banyak biro lain yang memberikan perhatian kepada kaum Melayu Muslim di Kamboja, pada biro ekonomi hal itu juga nampak menjadi focus. Misalnya, diharapkan DMDI membuat proyek pelatihan bisnis kecil bagi keluarga miskin di negeri ini. Memberikan bantuan alat-alat produk kerajinan rumah tangga.

Peranan pebisnis kalangan wanita juga diminta untuk ditingkatkan di samping penggalakan pameran pada tahun depan. Tahun ini pameran itu cukup besar. Digelar sejak berlangsungnya DMDI dengan berbagai acara pendahuluan sejak 1 Oktober lalu.

Di lantai dasar MITC terdapat sekitar 500 Stand berbagai produk negeri-negeri DMDI. Dari Sumbar ada 3 daerah yang ikut pameran. Ketiganya Kabupaten Agam, Kota Bukittingi, dan Kabupaten Solok Stand Agam yang sempat penulis tinjau berisi contoh-contoh sulaman, produk tani dan tanaman tradisional termasuk kasia vera dan lain-lain.

Akan halnya dunia pelancongan (Pariwisata), Sawahlunto mengambil manfaat cukup besar dalam hal ini. Pada dinding ruangan lokakarya bidang ini, terpajang secara lengkap diorama dan skema kegiatan proses apa yang sekarang sedang dikembangkan oleh Sawahlunto dengan Sekretariat Pusat DMDI di Melaka.

Prof Madya Dr Amran bin Hamzah, Pensyarah (Dosen) Fakulti (Fakultas) Alam Bina, UTM, Skudai sebagai Pimpro proyek ini membentangkan kertas kerjanya. Konsep ini dikaitkan dengan Kota Wisata Tambang Sawahlunto yang sudah digerakkan oleh pemerintah kota ini sejak beberapa tahun lalu.

Belajar dari Melaka, tampaknya negara- DMDI lain, tidak perlu konsep-konsep muluk dalam pembangunan dunia wisata sebagai salah satu andalan pertumbuhan eknomi. Melaka menjual wisata budaya seperti mitos Hang Tuah . Wisata sejarah seperti benteng Portugis. Taman burung, dan kebun buah, beberapa univeristas dan Kolej Teknologi Islam. Dan beberapa lainnya lagi.

Semua itu dibungkus menjadi objek wisata. Sarana dan prasarana amat menunjang. Kotanya bersih. Jalan-jalannya lebar. Keamanan terjamin. Tranportasi cukup. Terminal Bus, baik. Pelabuhan laut dan udaranya cukup memadai. Harga-harga barang bersaing dan dapat ditawar dengan kualitas yang cukup baik. Hotel-hotel tersedia. dan lebih dari itu Melaka menjadi tujuan wisata kesehatan pada beberapa tahun belakangan ini. Tata ruang antar dan k objek-objek sepertinya tidak berjauhan.

Antara pelabuhan laut dengan Stasiun Bus berdekatan dan pusat belanja segala ada atau supermarket dan mall terasa seperti ditata demikian rupa. Yang satu arah ke kiri dan satu arah ke kanan. Bahkan kepada pusat belanja mall raksasa bisa dicapai dengan jalan kaki dari pelabuhan. Begitu pula ke Terminal Bus yang sedikit agak jauh dari mall tadi, tetapi masih bisa dicapai jalan kaki

Akan halnya wisata kesehatan, terutama dari Indonesia, orang berbondong-bondong berobat, melakukan general check-up dan treatment kesehatan di sini. Hospital (Rumah Sakit) di mana-mana mempunyai fasilitas yang cukup bahkan memiliki hotel sendiri. Layanannya terasa baik.. Hari Kamis (7/10) penulis agak demam dan menceret. Setelah acara sore hari, dekat Hotel Orkid ada Southtern Hospital. Karena panitia tidak menyediakan klinik di MITC, penulis dirujuk kesana.

Pages:
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Anton Hilman
Source: Harian Singgalang Oktober 2004

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim