Radikalisme, Salafi, Transnasional dan Platform Parpol Islam Bingkai Ukhuwah
Ada kebiasaan para analis memasangkan, sebelum kata radikalisme itu dengan fundamentalisme. Sehingga sering ditarik dalam satu nafas sebagai fundamentalisme-radikalisme.[8] Fundamentalisme adalah gerakan dalam agama Protestan Amerika yang menekankan kebenaran Bible bukan hanya dalam masalah kepercayaan dan moral, tetapi juga sebagai catatan sejarah tertulis dan kenabian; misalnya tentang kejadian, kelahiran Kristus dari ibu yang perawan dan sebagainya (Rifyal Ka'bah, 1984).[9]
Dalam kalimat lain, fundamentalisme adalah memelihara interpretasi literal tradisi kepercayaan dalam agama Kristen yang berlawanan dengan ajaran yang lebih moderen (AS Hornby, 1987). [10] Akan tetapi, hal yang terjadi pada Protestan itu terjadi juga pada Katholik, juga Yahudi, Hindu, Budha dan bahkan terdapat hal yang sama pada penganut ideologi ultra-kiri, ultra-kanan, ultra nasionalis seperti Nazisme baru yang marak pada beberapa negara di Eropa. Fenomena itu terjadi sejak 1970-an bahkan sampai sekarang di hampir seantero dunia, lintas kepercayaan dan agama. Kasus Rohingya, Boko Haram dan Charlie Hebdo[11], sebagai yang paling akhir.
Oleh karena media dan diskursus dunia dikuasai Barat, maka wacana fundamentalisme yang menekankan hal-hal mendasar serta berkaitan dengan akar masalah sangat dalam, maka fundamentalisme-radikalisme, sudah salah kaprah dilekatkan oleh mereka kepada pemikiran dan gerakan yang berlabel Islam seperti saat ini.
Tentu saja kalau hanya bersifat ucapan dan paham atau bahkan tulisan maka hal itu dapat disebut sebagai fundamentalisme-radikalisme pemikiran. Pemikiran yang bertolak dari segala sesuatu yang paling mendasar dan original (murni), asasi atau asli. Untuk yang terakhir ini, dapat disebut sebagai pemurnian atau purifikasi pemikiran. Dari sinilah kaitannya, orang senang mengatakan radikalisme juga kadang-kadang dikaitkan konsepsi salafi. Oleh karena kaum salafi, menekankan hal-hal yang berhubungan dengan urat tunggang dalam kehidupan agama dan sosial yang mendasarkan kehidupan atas kemurnian dan kesucian akidah.
Maka kaum salafi merupakan golongan yang sangat menjaga hal-hal yang prinsipil dan paling dalam terhunjam di dalam rekayasa bangunan kehidupan keagamaan, social-kemasyarakatan, paham kenegaraan dan pemerintahan . Dengan begitu kaum salafi menjunjung tinggi hal-hal prinsip itu, bahkan menjadi ideologi yang kokoh.
Apabila hal itu mengkristal menghunjam ke dalam aliran darah dan urat nadi kehidupan, perjuangan dan gerakan, maka menjadilah ia sebagai paham salaf yang disebut salafisme. Salafisme mengambil namanya dari salaf. Istilah yang berarti "pendahulu", "nenek moyang" atau suatu identifikasi kepada generasi awal Islam. Kaum salaf menjadi "role model" sebagai lambang praktik Islam yang super jenuin.
Sebuah hadits Nabi Muhamad Rasulullah saw, mengatakan "orang-orang dari generasi saya sendiri adalah yang terbaik, begitu pula para sahabat dan berikutnya orang-orang yang datang setelah mereka, dan kemudian orang-orang dari generasi berikutnya, ".
Adalah sebuah seruan yang amat mulia bagi umat Islam untuk mengikuti contoh mereka tiga generasi pertama, yang dikenal secara kolektif sebagai salaf atau "pendahulu yang saleh" (al-salaf al-Saleh). Mereka yang dimaksud dimulai dari Nabi Muhammad Rasulullah saw sendiri, para sahabat (shahabat), yang pengikut (tabi'in) dan pengikut dari pengikut (tabi 'al-tabi'in).
Prinsip salafi itu, dihormati oleh kalangan ortodok [12] Islam dan oleh para teolog Sunni sejak generasi Muslim kelima atau sebelumnya yang telah menggunakan apa yang mereka lakukan pada masa awal Islam tadi menjadi contoh bagi mereka untuk memahami teks-teks dan ajaran Islam. Kadang-kadang juga untuk membedakan keyakinan kaum muslimin pertama dari variasi berikutnya di dalam keyakinan dan penggunaan metodologi untuk menentang bid'ah (mengada-ada tanpa dasar) agama dan sebaliknya, untuk mempertahankan pandangan dan praktek tertentu.
Kaum Salafi percaya bahwa Al-Qur'an, Hadits dan konsensus (ijma) atau kesepakatan yang disetujui para ulama bersama dengan pemahaman salaf merupakan pandu utama jalan kehidupan. Tidak perlu yang lain, dan cukup itu saja bagi setiap warga dan masyarakat Muslim.
Di dalam konsepsi dakwah, Salafi adalah metodologi dan bukan mazhab fikih (yurisprudensi). Kadang-kadang hal itu dapat bercampur-baur dan mungkin pula terjadi salah paham. Dengan demikian secara metodologis, Salafi dapat berasal dari pengikut Mazhab Maliki, Syafi'i, Hanbali dan Hanafi. Semuanya digolongkan kepada pemikiran Fikih Sunni.
https://www.facebook.com/shofwanbin.abdulkarim
https://www.instagram.com/shofwankarim/
https://x.com/shofwankarims
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: https://kumparan.com/shofwan-karim/radikalisme-salafi-transnasional-dan-platform-parpol-islam-bingkai-ukhuwah
Related news
Delapan Puluh Tahun dan Sebuah Cermin
Opini - August 13, 2025
Rekomendasi Paslon, Duduk dan Terduduk
Opini - March 30, 2025
Politik Besar Hidung dan Patah Arang: Tawaran Rasional
Opini - March 25, 2025


























