Radikalisme, Salafi, Transnasional dan Platform Parpol Islam Bingkai Ukhuwah
IV. Khilafah Islamiyah, ISIS sebagai Tren ke-3. Apa yang disebut sebagai "Jihadis salafi" adalah tren ke-3 sebagai wacana yang paling kontroversial, penuh ajang debat, pro-kontra. Sebagian mengkategorikannya sebagai aktualisasi dari ideologi agama (Assaf Moghdam, 2008).[15]
Di dalam media on-line serta situs-situs dunia-maya, akan kesulitan dan susah membagi mana kategori yang benar-benar dari kalangan "Jihadis Salafi" itu yang murni, mana pula yang menangguk di air keruh atau berpura-pura, sehingga membuat buncah jagat dunia global.
"Salafi para tokoh" adalah istilah yang diciptakan oleh Gilles Kepel[16] untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang mengklaim dirinya sebagai salafi yang mulai mengembangkan minat dalam jihad selama pertengahan 1990-an. Praktik mereka sering disebut sebagai "jihadis Salafi" atau "salafi jihadis". Wartawan Bruce Livesey memperkirakan jihadis Salafi jumlahnya kurang dari 0,5 persen dari 1,9 miliar warga Muslim di dunia (kurang dari 10 juta). [17]
Definisi lain dari jihad Salafi, yang ditawarkan oleh Mohammed M. Hafez, adalah "bentuk ekstrim Sunni Islamisme yang menolak pemerintahan demokrasi dan pemerintahan Syiah." Hafez membedakan mereka dari apolitis dan konservatif ulama Salafi, seperti Muhammad Nasiruddin al-Albani, Muhammad ibn al Utsaimin, Abd al-Aziz ibn Abd Allah ibn Baaz dan Abdul Azeez ibn Abdullah-Aal ash-Shaikh. Selain itu ada juga dari gerakan Sahwa terkait dengan Salman al-Ouda atau Safar Al-Hawali. [18]
Pada tahun 2014 ada analisis oleh Darion Rhodes, dari Kaukasus Emirat mengetengahkan dua kategori. Kelompok ketaatan tauhid dan penolakan dari syirik, taqlid, ijtihad, dan bid'ah, sementara yang lain percaya jihad yang satu-satunya cara untuk memajukan kehendak Allah di bumi.
Dengan begitu tampaknya, meski ada beberapa kesamaan, tetapi banyak kelompok yang memproklamirkan diri di era kontemporer ini yang berbeda pemikiran Salafi mereka. Antara yang satu dengan yang lain sering sangat tidak setuju atas beberapa hal dan menyangkal karakter Islam pihak yang lain.
V. Saudi Arabia dan Indonesia: Salafi yang Beda. Lebih lanjut ada pandangan yang berbeda tentang Wahabisme dan Salafi. Di antaranya mengatakan bahwa setiap Wahabisme adalah Salafi tetapi belum tentu setiap Salafi adalah Wahabisme. Wahabisme dianggap salafi ideologis. Sementara ada salafi non-ideologis.
Yang non-idelogis, semata-mata mempromosikan ketauhidan, anti syirik, anti bid'ah dan mempromosikan Islam melalui pendidikan, memberikan biaya hidup bagi para dosen dalam negeri dan di luar Saudi Arabia. Mereka yang mendukung konsep ini, mempromosikan salafisme di seluruh dunia.
Orang kaya Saudi yang disebut juga petro-Islam, membiayai pembangunan kampus, madrasah, sekolah, masjid, pengadaan buku-buku, memberikan beasiswa bagi angkatan muda negara mayoritas muslim ke Timur--Tengah. Semua itu tidak bisa disebut sebagai salafi-jihadi seperti yang diteorikan oleh para akademisi dan penulis Barat tadi.
Oleh karena itu banyak sarjana dan kritikus membedakan antara bentuk lama Salafisme-Saudi yang disebut Wahhabisme dan Salafisme baru di Arab Saudi. Stphane Lacroix,[19] dan beberapa dosen di Sciences Po di Paris, juga menegaskan perbedaan antara keduanya: "Berbeda dengan Wahabisme, Salafisme mengacu untuk semua keteguhan kepada prinsip Islam awal tanpa mengiringinya dengan tindakan kekerasan.
Penyebaran paham Salafisme-Wahabi dan Salafi-Murni, di Indonesia pada beberapa waktu belakangan menjadi kajian yang menarik. Ahmad Bunyan Wahib di dalam "Being Pious Among Indonesian Salafis" Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies -ISSN: 0126-012X (p); 2356-0912 (e) Vol. 55, no. 1 (2017), pp.1-26, doi: 10.14421/ajis.2017.551.1-26, mengatakan bahwa salafi itu pada awalnya adalah pengamalan Islam yang otentik atau murni. Islam yang hanya berdasarkan al-Quran dan Sunnah.
https://www.facebook.com/shofwanbin.abdulkarim
https://www.instagram.com/shofwankarim/
https://x.com/shofwankarims
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: https://kumparan.com/shofwan-karim/radikalisme-salafi-transnasional-dan-platform-parpol-islam-bingkai-ukhuwah
Related news
Delapan Puluh Tahun dan Sebuah Cermin
Opini - August 13, 2025
Rekomendasi Paslon, Duduk dan Terduduk
Opini - March 30, 2025
Politik Besar Hidung dan Patah Arang: Tawaran Rasional
Opini - March 25, 2025


























