Radikalisme, Salafi, Transnasional dan Platform Parpol Islam Bingkai Ukhuwah
Terhadap organisasi masyarakat madani ormas Islam tersebut, perlu ada dorongan yang kuat untuk meningkatkan hubungan yang mesra antara sesamanya. Akan tetapi ada faktor lain, yang kurang disadari bahwa peranan Partai Politik (Parpol) sebagai infra dan supra struktur politik nasional cukup menentukan untuk meningkatkan harkat dan martabat organisasi ummat tadi.
Apalagi Parpol, di dalam hal ini Parpol Islam secara langsung atau tidak, agaknya dapat memberikan pengaruh positisif yang signifikan terhadap kehidupan keumatan dan kebangsaan dalam bingkai ukhuwah untuk ke-Indonesiaan dan ke-Islaman yang rahmat lial-alamin.
Secara tersirat diskursus penyatuan payung Parpol menurut sejarah lahir dan berkembangnya sampai hari ini masih ada di dalam back-mind (pikiran-tersirat) dan hidup di kalangan tertentu. Terutama pada kalangan ideolog muslim senior. Di Amerika, dua partai utama Republik dan Demokrat, masih layak menjadi cermin. Betapa negara terbesar berpenduduk terbesar ketiga setelah Tiongkok dan India itu cukup dengan dua partai dominan itu.
Bayangkan dengan Indonesia dengan populasi ke-3 terbesar di dunia setelah Amerika, mempunyai 12 Partai mendapat kursi dan beberapa kekuatan mayoritas Parlemen. Jumlah Partai itu terasa kurang menguntungkan kepada laju pertumbuhan dan perkembangan kesejahteran rakyat dan kemajuan bangsa.
Rendahnya kinerja bebeberapa bahkan sementara pengamat mengatakan sebagian besar anggota Kabinet Jokowi-JK, langsung atau tidak karena terlalu banyaknya partai. Dalilnya, sebagian karena kepentingan Partai tidak dapat ditolak oleh Jokowi-JK, sehingga merit sistem dan cabinet kerja yang bertumpu semata-mata kompetensi, tidak banyak bisa diaplikasikan. Oleh karena tidak semua pakar partai yang layak masuk ke Kabinet. Atau bahasa vulgar-nya, orang Partai yang duduk di Kabinet tak "pas".
Belajar dari Orde Baru yang banyak kegagalannya dan dianggap ademokratis, namun di dalam penataan Partai Politik, Pengkaderan Partai serta etika dan budaya politik, agaknya masih layak mendapat apresiasi. Terutama dengan penyederhanaan partai (fusi) dari 10 menjadi 3 kekuatan: Nasionalis-Sekuler (PDI); Agamis-Nasionalis (PPP); dan Kekaryaan-Fungsional (Golkar).
Zaman reformasi, pada struktur politik, secara gradual terjadi penurunan dari lebih 40 Parpol pada awalnya (1998-2004) kini tinggal 12 Parpol. Dan sebetulnya, tanpa disadari dengan tidak mempedomani Platform Partai secara murni, mereka sudah mengerucut di Parlemen menjadi 2 kekuatan: Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisasi Merah Putih (KMP).
Pengerucutan itu kelihatannya murni karena kekuasaan, suka dan tidak suka. Bercampurlah di situ antara partai yang platformnya Pancasila murni, Pancasila plus, antara sekuler dan agamis atau bahasa moderatnya antara partai nasionalis-agama dan agama-masionalis.
Beberapa waktu lalu bahkan secara di bawah sadar, sampai sekarang masih terasa ada perpecahan pada beberapa partai. Apakah itu karena perbedaan platform-partai? Secara kasat mata, jawabannya, tidak. Kelihatannya hanya soal kekuasaan semata. Di dalam memillih koalisasi juga tidak karena platform. Kalau platform Pancasila-plus agama, tentunya PPP harus satu kapal dengan PKB, PAN, PKS dan PBB. Atau sebaliknya Partai platform Pancasila-plus sekuler, mestinya PDIP, Golkar, Demokrat, Hanura, Nasdem , Grindra dan PKPI dalam satu kapal lainnya.
VII. Peranan Parpol Islam. Di tengah keadaan itu apa yang bisa diharapkan dari Parpol Islam untuk mendidik rakyat dalam berpolitik. Khusus untuk tidak terjebak ke dalam gerakan radikalisme dan Islam transnasional. Mari kita lihat Platform ideologis beberapa Parpol Islam, di antaranya PPP dan PKS. Yang satu dianggap sebagai Parpol Islam hasil fusi berbagai partai Islam yang dideklaraasikan 5 Januari 1973, [25] gabungan aspirasi modernis dan tradisional serta moderat dan yang kedua murni produk reformasi yang keras-ideologis.
Yang satu kumpulan sub-kultur Islam modern dan tradisional. Sementara yang kedua muncul dari gerakan usrah tarbiyah jamaah (pendidikan berkelompok), halaqah-liqa', pengajian rohani (rohis) aktivis kampus, dan mereka yang datang dari anak-ank muda alumni pendidikan tinggi Timur Tengah dan dari Barat yang progrresif. Partai yang mulanya bernama Partai Keadilan (20 Juli 1998) kemudian menjadi Partai Keadilan Sejahtera[26] partai segar anak muda yang terinspirasi oleh gerakan transnasional seperti Ikhwanul Muslimin.[27] Beberapa keterangan belakangan dari Anis Mata, Ketua Umum atau Presiden PKS sekarang membantah bahwa PKS terkait Wahabi, Ikhwanul Muslimin dan Islam transnasional. [28]
https://www.facebook.com/shofwanbin.abdulkarim
https://www.instagram.com/shofwankarim/
https://x.com/shofwankarims
Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: https://kumparan.com/shofwan-karim/radikalisme-salafi-transnasional-dan-platform-parpol-islam-bingkai-ukhuwah
Related news
Delapan Puluh Tahun dan Sebuah Cermin
Opini - August 13, 2025
Rekomendasi Paslon, Duduk dan Terduduk
Opini - March 30, 2025
Politik Besar Hidung dan Patah Arang: Tawaran Rasional
Opini - March 25, 2025


























