Radikalisme, Salafi, Transnasional dan Platform Parpol Islam Bingkai Ukhuwah

Monday, March 3, 2025 09:35 AM | Opini
Radikalisme, Salafi, Transnasional dan Platform Parpol Islam Bingkai Ukhuwah
Berucaplah yang baik. Boleh jadi di antaranya doa. (Ilustrasi Hadist)
Zuhud, Wara", Qana

Untuk memahami dengan baik tentang Al-Qur'an atau Hadits, mereka mendukung keterlibatan ulama untuk berijtihad. Tentu saja syarat berijtihad yang terpenuhi. Ini merupakan cara untuk menghindari kebekuan (jumud) dan taklid buta. Khusus untuk akidah, keyakinan dan pandangan teologis, pengikut salafi semata-mata mengikuti apa yang dipahami sunnah shahihahtanpa terbawa kepada dialektika ilmu kalam dan semua bentuk filsafat yang dianggap sepekulatif.

Ajaran salafi menganggap "tawassul" sebagai syirik, termasuk bertawassul dengan tokoh agama dan para ulama. Begitu pula memuja kuburan termasuk memuja kuburan Nabi dan orang-orang yang dianggap suci. Mengunakan azimat (jimat) apalagi batu akik yang punya kekuatan magis adalah syirik. Mempertahankan praktik-praktik itu semua dianggap bid'ah (mengada-ada atau inovasi sesat). Semua itu termasuk politeisme atau syirik. Tidak satupun dari praktik itu yang dibolehkan di kalangan salafi.

Dari sinilah kalangan lain menganggap apa yang menjadi ajaran kaum al-Muwahhidun (kalangan penganut tauhid) yang dipelopori Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703-1787), kini ada anggapan sebagai salafi modern, hidup kembali. Padahal, sebagai penganut akidah murni Islam, apa yang menjadi doktrin al-Muwahhidun itu merupakan pendapat jumhur ulama. Harun Nasution (1921-1997) mensitir Muhammad Ibnu Abdul Wahab memusatkan perhatiannya kepada hal akidah murni itu. [13]

Lebih dari itu yang menjadi ideologi mereka bahwa mereka percaya bahwa gradasi dan kualifikasi Islam menjadi turun, setelah generasi awal karena inovasi-sesat agama golongan tertentu dan meninggalkan apa yang mereka anggap sebagai ajaran Islam yang murni. Mereka percaya bahwa kebangkitan Islam hanya akan dapat sukses kalau kembali kepada cara-cara dan peradaban generasi awal umat Islam dan membersihkan semuanya dari pengaruh asing. Lebih dari itu kaum salafi menolak yang disebut konsep teologi dan ilmu kalam apalagi pemikiran filsafat spekulatif.

Versi bnpt
Versi BNPT

III. Salafi Modern dan Kontemporer. Kaum Salafi menganggap Muhammad ibn Abd al-Wahhab sebagai sosok pertama di era modern yang mendorong untuk kembali ke praktik keagamaan dari salaf al-shalih. Ia memulai gerakan revivalis (menghidupkan kembali) Islam yang murni di daerah pedalaman Jazirah Arabia pada abad ke-18 yang jarang penduduknya di wilayah Najd (Nejed).

Belakangan bersama-sama dengan Ibnu Saud memurnikan pemahaman Islam dan melakukan gerakan kembali kepada doktrin salafi itu. Dari sejarah yang panjang sekarang menjadi Kerajaan Saudi Arabia. Kolaborasi antara Muhammad Ibnu Abdul Wahab dengan Ibnu Saud itu, oleh beberapa analis disebut sebagai salafi-plus (salafi-politik)

Karya-karya Muhammad Ibnu Abdul Wahab, terutama kitab at-Tauhid, masih banyak dibaca oleh kaum Salafi di seluruh dunia. Bahkan saat ini dan mayoritas ulama Salafi masih mengutipnya. Tidak jarang oleh kalangan lain ajaran asli kaum yang menamakan diri al-Muwahhidun tadi sebagai ajaran Wahabi. Dinisbatkan kepada namanya. Dan ini boleh dianggap sebagai berfikir cara orientalisme (ahli ketimuran-ke-Islaman) kalangan Barat yang bersifat pejorative (merendahkan).

Di antara pengamat, berdasarkan gerakan dan pemikiran mutakhir melihat beberapa aliran salafisme menjadi tiga tren: puritan (murni); orientasi politik dan para penggerak militant yang ekstrim-radikalis.

Untuk tren terakhir, mereka menyebut kaum jihadis. [14] Padahal kata jihad di sini dipahami mereka bertentangan dengan makna semantik yang dipahami umum oleh umat Islam sebagai berusaha dan bekerja keras di jalan Allah, menuntut ilmu dengan, atau dan sungguh-sungguh bekerja. Kata jihadis di sini dipahami mereka sebagai garis keras bahkan sering disamakan dengan terroris.

Tren pertama, puritan adalah gerakan pemikiran dan usaha yang berfokus pada pendidikan dan pekerjaan dakwah untuk rekonstruksi tauhid. Ini dianggap salafi puritan non-kekerasan dalam tabligh , dakwah serta penyiaran memperkuat Islam. Selalu melaksanakan pemurnian kepercayaan dan praktik keagamaan. Tampaknya mereka mengabaikan politik dan kekuasaan dalam menyampaikan misi dakwahnya.

Sementara tren kedua, politik memfokuskan kepada reformasi politik dan membangun kembali khilafah melalui sarana evolusi, tapi bukan kekerasan. Ini disebut kadang-kadang sebagai aktivisme-salafis. Selanjutnya tren ketiga,sebenarnya untuk tujuan politik yang sama seperti kelompok kedua, akan tetapi terlibat dalam tindakan kekerasan, revolusioner yang oleh pihak lain disebut para radikalis-fisik. Mereka ini yang disebut sebagai kaum jihadis tadi, sebagai satu istilah pejorative atau merendahkan. Padahal kata jihad adalah untuk berjuang keras demi kebaikan.

Pages:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Next

https://www.facebook.com/shofwanbin.abdulkarim

https://www.instagram.com/shofwankarim/

https://x.com/shofwankarims

Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Shofwan Karim
Editor: Shofwan Karim
Source: https://kumparan.com/shofwan-karim/radikalisme-salafi-transnasional-dan-platform-parpol-islam-bingkai-ukhuwah

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim