Evolusi Orang Pintar
Bahayanya di era ini bukan sekadar kita jadi pasif. Bahayanya adalah matinya nuansa. Algoritma didesain untuk memberi makan ego kita. Apa yang kita suka, itu yang terus datang. Kita terkurung dalam tempurung kenyamanan (echo chamber).
Orang pintar di era ini seringkali disalahartikan sebagai "Si Viral". Padahal, tantangan sesungguhnya adalah menjadi "Si Waras". Orang yang mampu tetap objektif di tengah gempuran konten yang memancing emosi.
Tapi pikiran saya tidak berhenti di slide Lyqa itu. Saya membayangkan apa yang terjadi di depan mata. Lyqa berhenti di era Algoritma. Padahal, dunia sudah berlari lebih kencang. Kita sudah masuk era keempat. Generative AI.
Era AI
Ini era ChatGPT. Era Claude. Era Copilot. Era DeepSeek. Era Gemini.
Di fase ini, kita tidak lagi sekadar mencari atau disuapi. Kita meminta. "Buatkan saya pidato," "Ringkaskan buku ini," "Jelaskan fisika kuantum dengan gaya anak TK."
Mesin tidak lagi memberikan link. Mesin memberikan jawaban. Dia mensintesis. Dia menjadi asisten pribadi. Orang pintar di era ini bukan lagi yang hafalannya kuat, tapi yang "Pandai Bertanya". Yang prompt-nya bagus, hasilnya bagus.
Cara belajarnya? "Dialog Iteratif". Jadikan AI sebagai lawan tanding (sparring partner). Minta dia mengkritik tulisan kita. Minta dia mendebat argumen kita. Kita belajar dari proses ping-pong pemikiran itu.
Agentic AI
Lalu, apa setelah ini?Para ahli teknologi bilang, kita sedang menuju era kelima, Post-Gen AI. Atau sering disebut Agentic AI.
Journalist: Anton Hilman
Editor: Shofwan Karim
Source: https://aswajanusantara.com/esai/evolusi-orang-pintar/
Related news
- Taiwan Starry Night Marathon, Review oleh Ir. Anwar Fachry, M.Sc. Dosen UNRAM - CWY-PPIK 1982
- Pakar: Bank Syariah Muhammadiyah Bisa Jadi Pelopor Baru Keuangan Syariah Nasional
- Mengunjungi Suku Mosuo di Lijiang, Yunnan, China
- PERJALANAN PANJANG DARI KUNMING KE LIJIANG DAN MOSUO
- Sukarno-Hatta, Dwi Tunggal Bertukar Air Mata


























