Evolusi Orang Pintar

Saturday, December 13, 2025 07:19 PM | Outsourcing Media
Evolusi Orang Pintar
Ilustrasi Evolusi Cara Manusia Belajar: dari Zaman Purba hingga Era AI (Sumber: archaeologyinmarlow.org.uk)
Zuhud, Wara", Qana

Bahayanya di era ini bukan sekadar kita jadi pasif. Bahayanya adalah matinya nuansa. Algoritma didesain untuk memberi makan ego kita. Apa yang kita suka, itu yang terus datang. Kita terkurung dalam tempurung kenyamanan (echo chamber).

Orang pintar di era ini seringkali disalahartikan sebagai "Si Viral". Padahal, tantangan sesungguhnya adalah menjadi "Si Waras". Orang yang mampu tetap objektif di tengah gempuran konten yang memancing emosi.

Caranya? Lyqa menawarkan konsep "Reach to Teach". Lawan arus. Sengaja cari hal yang tidak Anda sukai untuk meluaskan perspektif. Dan ajarkan kembali. Karena di era algoritma, kita baru benar-benar paham setelah mencoba mengajarkannya ke orang lain.

Tapi pikiran saya tidak berhenti di slide Lyqa itu. Saya membayangkan apa yang terjadi di depan mata. Lyqa berhenti di era Algoritma. Padahal, dunia sudah berlari lebih kencang. Kita sudah masuk era keempat. Generative AI.

Era AI

Ini era ChatGPT. Era Claude. Era Copilot. Era DeepSeek. Era Gemini.

Di fase ini, kita tidak lagi sekadar mencari atau disuapi. Kita meminta. "Buatkan saya pidato," "Ringkaskan buku ini," "Jelaskan fisika kuantum dengan gaya anak TK."

Mesin tidak lagi memberikan link. Mesin memberikan jawaban. Dia mensintesis. Dia menjadi asisten pribadi. Orang pintar di era ini bukan lagi yang hafalannya kuat, tapi yang "Pandai Bertanya". Yang prompt-nya bagus, hasilnya bagus.

Cara belajarnya? "Dialog Iteratif". Jadikan AI sebagai lawan tanding (sparring partner). Minta dia mengkritik tulisan kita. Minta dia mendebat argumen kita. Kita belajar dari proses ping-pong pemikiran itu.

Agentic AI

Lalu, apa setelah ini?Para ahli teknologi bilang, kita sedang menuju era kelima, Post-Gen AI. Atau sering disebut Agentic AI.

Kalau Generative AI itu seperti konsultan yang pintar bicara, Agentic AI itu seperti manajer yang punya kaki dan tangan. Nanti, kita tidak perlu mengetik. Cukup perintah lisan ke HP atau kacamata pintar: "Saya mau liburan ke Bali, tolong atur semuanya."

Pages:
1 2 3 4 5 6 Next
Bahagia yang Tak Selalu Terlihat

Journalist: Anton Hilman
Editor: Shofwan Karim
Source: https://aswajanusantara.com/esai/evolusi-orang-pintar/

Share:
link ke situs https://shofwankarim.wordpress.com
Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Selincam Pengalaman Kepemudaan dan Kepemimpinan di Kanada dan Amerika
link ke situs https://www.shofwankarim.com
Link ke situs https://www.shofwankarim.id/
https://langgam.id/tag/shofwan-karim/
shofwankarim.livejournal.com
kumparancomshofwankarim